Archive for the 'teori' Category

15
Apr
14

Cinta yang Tak Berbalas – Bagaimana Mengatasi Patah Hati Karena Cinta Tak Berbalas (1)

Akupun pernah mengalaminya. Aku begitu menyukainya, tapi ia tidak menyukaiku. Atau aku tidak menyukainya, tapi ia suka banget sama aku.

Hm..tapi untung belum pernah mengalami yang ini:
Aku menyukainya, dia pura-pura menyukaiku, terus akhirnya dia mengkhianatiku..ach..betapa malangnya kalau benar terjadi…

Tapi teman-teman..kata orang, lebih banyak alasan untuk kita tersenyum, daripada alasan untuk kita bersedih, jadi kenapa kita isi hidup kita dengan kesedihan? Yah..tapi kan..terkadang tidak semudah itu..Yah..ngerti kok, aku juga pernah mengalaminya…

Karena itulah, setelah aku ‘berkonsultasi’ kepada beberapa teman untuk mengatasi sakit hati, setelah aku browsing-browsing ke sana kemari, aku menemukan tulisan-tulisan, yang rasanya ingin kutulis kembali dalam bahasa Indonesia. Yaitu cara-cara supaya bisa ‘move-on’ dan sembuh dari patah hati…

Sebenarnya banyak tulisan-tulisan lain yang sudah mengemukakan tentang ini, tapi rasanya yang ini pengen kuhimpun, kuterjemahkan dan kutulis lagi..yah..mungkin bisa memberikan pandangan yang berbeda, dan bisa lebih memantapkan diri kita untuk tidak terus melihat masa lalu yang kelabu, melainkan lebih melihat masa depan yang lebih cemerlang di depan..hahaayy.. :D

Bagian Pertama:
Mengatasi Rasa Sakit karena Cinta yang Tak Berbalas :
* sumber-sumber:
- http://www.uncommonhelp.me/articles/how-to-handle-the-pain-of-unrequited-love/)

- http://www.ehow.com/how_2054274_deal-unrequited-lovedeal-unrequited-love.html
- http://us.life.viva.co.id/news/read/495957-7-cara-jitu-melupakan-pria-yang-tak-bisa-dimiliki?utm_source=dlvr.it&utm_medium=facebook

1) Terimalah kenyataan, bahwa ia tidak menyukaimu!

Setelah orang yang kamu suka telah mengatakan,
“Maaf, aku tidak siap.”
“Maaf, aku tidak bisa.”
“Maaf, aku tidak mau”.
“Maaf, aku tidak menyukaimu.”
“Kita teman saja ya”.
“Sori, aku tidak bisa membalas perasaanmu..”
..atau lain-lain yang sejenisnya..peka lah, bahwa ia benar-benar tidak bisa membalas cintamu. Ia
tidak menyukaimu. Ini kenyataan.

Seringkali kita berpikir..”seandainya saja aku dapat membuatnya melihat ketulusanku…” atau “sedikit lagi, mungkin kalau aku bisa berbicara dengannya..ia akan mulai menyukaiku…” atau “seandainya dia memberi ku kesempatan untuk sekedar jalan bersamanya beberapa waktu…”
yah…semacam itulah.. sadarlah..itu semua hanya ilusi. Kalau ia tidak menyukaimu, ya udah. Berhenti mengharapkan dia. CARI CARA LAIN buat mendekati seseorang YANG LAIN.

Sering kita termakan sama cerita fiksi dan fantasi, apalagi di drama-drama Korea yang pernah kulihat, tentang seseorang gadis yang berjuang untuk mendapatkan seorang yang paling populer di kelas…sadarlah, jangan terpengaruh, itu semua hanya fantasi! Kenyataan tidaklah seperti itu.

Aku sendiri juga pernah mengalami jatuh cinta sama seseorang, ia telah bilang “maaf, aku tidak siap”, aku tahu ia menolakku, tapi kupaksakan untuk terus mendekat ke dia. Karena kupikir masih ada harapan. Nyatanya, setelah makin lama berusaha untuk mendekat ke dia, malah membuat dia makin menjauh. Akhirnya ada seorang teman yang berkata..kalau kamu terlihat ‘ngarep’, itu sangat tidak sexy, bahkan sikap itu bisa sangat
memuakkan (kesimpulannya: jangan pernah terlihat terlalu ‘ngarep’ sama seseorang).
Pantesan dia makin menjauh. Temanku itu benar. Kalau kamu sudah ditolak, ya udah jangan diteruskan, cari yang lain! Jangan terperangkap dengan ilusi dan fantasi yang kita buat sendiri. Masih banyak cewek cakep atau cowok menarik lain di sekitar kita.

Pernah juga terjadi, aku pernah menyatakan cinta ke seseorang, tapi tidak dibalas…telpon gak diangkat, sms gak dibalas, ditemui di rumahnya gak pernah ada, atau mungkin sembunyi di mana…lama dia seperti itu…dia makin menjauh. Aku bilang aku hanya ingin jawaban apapun itu..tapi ia tetap saja tidak membalas.

Setelah berkonsultasi dengan teman, yang juga perempuan, akhirnya kusadari, itu artinya ia sebenarnya masih ingin berteman denganku, ia bingung..ia tak bisa membalas perasaaanku, tapi ia juga tak mau putus pertemanan denganku, dan ia tak mau menyakitiku…barulah aku tahu, ia telah menolakku.

Jadi kalau kalian mendapat perlakuan seperti itu, ia diam dan tidak mengatakan apa-apa..sadarilah, itu artinya ia menolakmu. Terima kenyataan itu. Berhenti, jangan terus menyiksa diri dengan mengharapkan dia. Karena itu juga akan menyiksa dia. (Ada penelitian yang mengatakan kalau yang menolak itu merasakan sakit yang sama dengan yang ditolak, bahkan bisa lebih besar, ini akan dijelaskan di bagian kedua)

Ingatlah ini. Kadang-kadang, tahu kapan harus berhenti
adalah langkah pertama untuk menuju kesuksesan.

2) Ketahuilah (benar-benar mengetahui) Siapa yang Kamu Sukai

Jika kita menyukai seseorang, maka secara otomatis kita akan membentuk bayangan tentang orang tersebut, yang bisa jadi jauh berbeda dengan yang sebenarnya. Tidak masalah sih membentuk bayangan tentang seseorang, tapi akan menjadi masalah jika terlalu berlebihan, jika di kenyataan ternyata sangat berbeda.

Kamu menyukainya, atau menyukai fantasi diri sendiri terhadapnya? Kamu menyukai sosok orang itu, atau hanya menyukai proyeksi kreatif mu? Seringkali orang yang jatuh cinta akan merasa bahwa ia ‘benar-benar tahu’ orang tersebut, yang akhirnya membuat ia merasa mempunyai ikatan terhadap orang itu.

Jadi, jika cinta tak berbalasmu terasa memenuhi pikiranmu,
sadarilah

bahwa kamu sebenarnya tidak benar-benar tahu dia. Yang kamu sukai dari dia hanyalah bayangan dan fantasi yang kamu buat tentang dia.

3) Tetap lanjutkan hidupmu yang luas, dan bertumbuhlah.

Pikiran-pikiran bahwa, “tanpa dia, aku tiada berarti..”, “kalau bukan dia, aku tak mau yang lain!”, dan semacam itu..semua adalah pikiran racun. Seolah-olah hanya orang tersebut yang bisa mengatasi permasalahan pribadi kita. Seolah-olah dia yang paling sempurna buat kita.

Jika terus berpikir demikian, pada akhirnya, kita akan mengabaikan apa yang terpenting buat diri kita, yaitu kedekatan emosional yang sesungguhnya. Kita akan menghilangkan kesempatan untuk lebih dekat dengan orang lain, dengan teman-teman lain di sekitar kita. Selain itu, aktivitas-aktivitas rutin dan yang sebenarnya penting buat pertumbuhan kita, akhirnya terabaikan juga, karena yang kita inginkan cuma ‘dicintai orang itu’. Kita jadi tidak belajar. Kita jadi berhenti latihan sesuatu hal yang penting buat kita, seperti biasanya.

Jadi, pergilah keluar, berolah-raga, menonton film, menelpon teman lama, tetap lakukan hal-hal yang normalnya kamu lakukan walaupun rasanya tidak enak (mencuci, bersih-bersih, belajar) ..karena semua aktivitas-aktivitas ini akan memberikan tenaga buatmu untuk melampaui kesedihanmu.

Yang terpenting, kita semua masing-masing adalah ‘berharga’. Jadi kenapa ‘ke-berharga-an’ kita harus tergantung oleh hadirnya orang lain? Kenapa kita masih tetap termakan oleh racun-racun itu, dan membuat diri kita berhenti tumbuh, hanya untuk seseorang yang jelas-jelas tidak menginginkan kita? Apalagi jika orang itu jelas-jelas tidak sesuai dengan bayangan dan imajinasi kita..Bergeraklah, penuhi dan fokuskan diri dengan aktivitas-aktivitas lain yang lebih penting.

4) Pandanglah Masa Depan Dalam Berbagai Bentuk Yang Mungkin

‘Badai pasti berlalu’. Kata sebuah lagu. Memang benar, apapun itu, semuanya pasti akan berlalu. Seorang anak kecil, pernah merasa ‘jatuh cinta’ dengan sebuah bus mainan berwarna merah. Bus itu akan dibawanya kemana-mana, dan ia merasa, memang sebenarnya ia dan bus itu diciptakan untuk bersama. Itu lah yang terpikirkan, saat itu.

Tapi setelah ia besar, ia toh tidak lagi bermain dengan bus merah itu. Memang ini cuma ilustrasi, tapi kenyataannya itulah yang terjadi pada kehidupan sehari-hari. Jika kita merasakan ‘sesuatu’, kita berpkir bahwa rasa itu akan selamanya begitu. Padahal sebenarnya tidak. Setelah beberapa waktu ‘rasa’ itu akan berlalu.

Coba kita tanya sama orang-orang tua yang sudah lama menikah. Ketika mereka masih sama-sama muda dan saling mencintai, bahkan sangat mencintai….apakah ‘rasa saling mencintai’ itu akan otomatis terus bertahan lama? Sebenarnya tidak. Jika tidak ada dari mereka usaha untuk terus menumbuhkan ‘rasa cinta’ itu, maka ‘rasa’ itu akan hilang.

Sebaliknya, ada juga pasangan yang awalnya tidak ada ‘rasa’, tapi karena terus-menerus membina ‘rasa’, lama-lama rasa itu akan muncul dan bisa bertahan terus, jika memang mereka ingin mempertahankan.

Intinya, ‘rasa cinta’ itu sebenarnya adalah rasa yang sementara. Ia bisa terus bertahan, karena ada usaha untuk mempertahankannya. Sakit hati, kesedihan, itu juga sementara…Mulailah melepaskan rasa sedih dan sakit hati itu..
pelan-pelan ia pasti akan berlalu juga…

Ini juga berlaku untuk hal-hal lain…ketika kita dirundung masalah, seberat apapun itu…selalu ingat..bahwa ini pun suatu saat pasti akan berlalu..badai pasti berlalu…

5) Keluar dari Kubangan

Ketika kita jatuh cinta pada bayangan kita akan seseorang, maka kita akan cenderung untuk tenggelam dalam kubangan khayalan romantisme, puisi patah hati, lagu-lagu mellow yang dipenuhi hati yang tersakiti. Berlebihan dalam hal ini sebenarnya malah akan mengarahkan kita pada masalah yang lebih jauh. Jika kita sudah merasa tersiksa karena keinginan kita yang tak berbalas (atau tak tercapai), maka terus berada dalam kubangan itu justru akan lebih memperparah rasa sakit kita.

Ada penelitian, jika kita galau, dan terus berada dalam kegalauan, akan mengarahkan kita pada kondisi ‘depresi’. Ketika kita depresi, maka aktivitas ‘prefrontal cortex’ pada otak sebelah kiri kita akan turun secara drastis. Artinya, kita jadi tak bisa berpikir secara logis.

Untuk mengatasi hal itu, masih menurut penelitian tersebut, jika kita tak bisa melepaskan fokus kita kepada seseorang..sehingga makan tidak enak, minum tidak enak, tidur tidak enak..maka lakukanlah hal-hal yang berhubungan dengan logika. Lakukan perencanaan. Lakukan analisa. Belajar bahasa. Menjawab TTS. Pokoknya yang berhubungan dengan merangsang aktivitas otak kiri, dan lakukan hal-hal yang menarik, ini akan membuatmu menstabilkan suasana hati, serta membuatmu lebih obyektif dalam memandang hal-hal yang mengganggu.

Intinya sebenarnya adalah, lepaskan fokusmu ke dia. “Don’t feed the monster” (Jangan ngasih makan ke monstermu). Kalau sudah tahu merasa sakit hati karena cintamu gak dibalas, ya jangan terus menemui dia, kirim sms ke dia, ataupun selalu mencari informasi tentang dia, misalnya dengan ngintip facebooknya, masuk ke tempat-tempat yang biasanya dia ada, dan lain-lain. Anehnya, ini biasanya sering kita lakukan, walaupun sudah tahu ia menolak, tapi rasa suka dan bayang-bayang tentang dia yang tak bisa lepas membuat segala sesuatu tentang dia adalah hal paling menarik buat kita. Percayalah, aktivitas ini tidak akan membuat kita lebih baik.

Katakan pada diri sendiri, “Kenapa aku menginginkan seseorang yang tidak menginginkanku?” Padahal kita berhak untuk orang yang lebih baik. Betapa sia-sia usaha dan waktu kita, jika hanya difokuskan pada sesuatu yang tidak mungkin bisa kita miliki?

Hati-hati dengan ini. Jika mendapati dirimu selalu merasa ingin ‘menempel’ kepada seseorang yang tidak mau denganmu, bahkan tidak mau memandangmu, bahkan yang telah sering menyakitimu, bisa jadi itu adalah patologi dari pengalaman masa kecilmu. Perjuangan untuk mendapat kasih sayang dan perhatian dari seseorang tersebut, adalah sebagai ganti perjuangan untuk mendapat perhatian dan kasih sayang yang dulu tidak kamu dapat dari kedua orang tuamu. Kamu seolah-olah ‘membutuhkan’ orang tersebut, sebagai prasyarat untuk kebahagiaanmu dan hidupmu. Jika kamu sering mendapati hal ini, dan itu tak bisa kamu hentikan serta terus menyiksamu, lebih baik segeralah berkonsultasi ke profesional.

Atau, mulailah untuk ‘lebih’ mencintai dirimu sendiri.
Sadarilah bahwa kamu lah satu-satunya orang yang berhak untuk mendapatkan cintamu.
BERHENTI sejenak, lihat dirimu sendiri, dan tenanglah. Jika kamu mendapati diri masih berusaha untuk memenuhi diri dengan orang lain, atau hal-hal lain dari luar diri sendiri, ketahuilah bahwa itu hanya akan membuatmu lebih buruk. Kebahagiaanmu adalah tanggung jawabmu, dan itu harus dari dirimu sendiri. Kebahagiaanmu bukan tanggung jawab orang lain dan bukan bersumber dari orang lain. Merasa tidak dicintai karena orang lain adalah gejala rendah diri, yang akan menurunkan kekuatanmu.

Ambil kekuatanmu kembali. Tetaplah untuk menumbuhkan hati dan jiwamu. Jadilah dirimu sendiri. Akan ada orang lain di sana yang akan menyukai dirimu yang autentik. Dirimu yang benar-benar dirimu. Dirimu yang bergerak karena memang kamu ingin bergerak, bukan atas dasar orang lain. Yang tumbuh karena kamu sendiri memang berhak dan menginginkan untuk tumbuh, bukan untuk orang lain.

Jika kamu mencintai dirimu sendiri, kamu tak butuh orang lain sebagai sumber kebahagiaanmu. Kamu akan merasa bebas, dan itu akan mengundang orang lain yang lebih baik di saat yang tepat nanti. Tetaplah berjalan dalam kedamaian dan kebahagiaan.

6) Ingat!! Cintamu Tak Berbalas Bukan Berarti Ada Yang Salah Denganmu!!

Kita cenderung bertanya-tanya, kenapa ia tidak mencintaiku? Kenapa ia tidak melihat kesungguhanku? Kenapa begini..kenapa begitu? Apakah ada yang salah denganku? Apa yang salah? Setidaknya kasih tahu alasannya kenapa?

Sudahlah..berhenti saja menanyakan hal tersebut. Faktanya, kalau kita sudah menjadi orang yang paling baik, paling lucu, paling cemerlang..bukan berarti ia harus menyukaimu. Ia tidak menyukaimu, ya karena ia tidak menyukaimu. Terkadang ada alasan yang sulit untuk dijelaskan kenapa seseorang suka sama orang lain atau tidak. Menyuruh orang lain untuk menyukai kita sama dengan menyuruh ombak untuk berhenti. Menyuruh orang lain untuk memberikan sesuatu yang ia tidak punya, adalah sesuatu yang sia-sia. Beberapa orang memang tidak bisa menyukaimu seperti kamu menyukainya, dan itu bukan berarti ada yang salah denganmu.

7) Temukan Seseorang Yang Bisa Memberimu Apa Yang Kamu Butuhkan

Mencintai dan dicintai – perasaan emosional yang simetris seperti itulah yang benar-benar dibutuhkan oleh kita. Beberapa orang terjatuh pada pola ‘destruktif’ untuk mengharapkan orang yang sudah ‘tak bisa diharapkan’, baik karena orang tersebut sudah punya pasangan lain, atau karena orang tersebut memang tak bisa/mau melakukan hubungan dengan kita. Secara tidak sadar, ketika kita mengharapkan orang yang tidak bisa kita harapkansebagai prasyarat untuk terjadinya cinta…itu akan seperti berenang di gurun yang kering, tidak akan berhasil! Setidaknya, sadar dulu tentang hal ini, bahwa ini adalah hal yang akan merusak diri sendiri.

Fokuslah terhadap seseorang yang menyukaimu sebagaimana adanya. Jangan menyamakan antara intesitas perjuangan dengan intesitas cinta sejati. Kamu akan mengetahui saat kamu menemukan cinta yang asli, yang memang patut kamu perjuangkan, karena cinta yang asli itu akan mengalir dalam dua arah (saling mencintai).

Cinta yang asli akan membuatmu bahagia dan senang, bukan menderita dan cemas. Cinta tak berbalas hanya akan menjadi penderitaan. Bayangkan betapa indahnya jika menemukan seseorang yang tahu bagaimana mencintaimu sebagaimana kamu mencintainya.

Ingatlah, berhentilah mencintai seseorang yang tidak mencintai kita, lalu MOVE-ON. Itu tidak hanya akan membuat diri kita lebih baik, tapi juga orang lain yang kita cintai tersebut juga akan lebih baik. Penelitian mengungkapkan, bahwa seseorang yang menolak cinta merasakan ‘penderitaan’ yang sama, bahkan lebih, daripada seseorang yang ditolak cintanya. Jadi jika kamu sudah ditolak cintamu, ya sudah, jangan terus mengharapkan dia. Karena itu akan menyiksa dia juga.

Nah, bagaimana jika kita berada di posisi yang harus ‘menolak cinta’? Tulisan tentang ‘Cinta Tak Berbalas’ ini akan saya lanjutkan di bagian kedua…
———————————————————————–

23
Nov
11

Trauma Karena Kehilangan Orang Yang Kita Cintai

Bila kita membaca tulisan Robert D. Stolorow, Ph. D, yang berjudul “Trauma and The Hourglass of Time – Trauma disrupts our ordinary experience of Time”, kita akan mengetahui bahwa trauma (dalam tulisan tersebut terutama trauma yang menyangkut kematian seseorang) sebenarnya tidak bisa dihilangkan dari kehidupan. Ketika kita kehilangan seseorang yang sangat kita sayangi, maka rasa kehilangan itu akan terus dan terus datang ke dalam diri kita. Waktu tidak akan menyembuhkan luka trauma. Kata-kata “Anda harus membiarkannya pergi dan teruslah melangkah” tak akan bisa berhasil menyembuhkan luka. Dengan kata lain, trauma adalah abadi, dan karena trauma itu mendalam, maka akan mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari. Luka akibat trauma akan terus dibawa dan dialami oleh seseorang. Walaupun di suatu waktu kita dapat melupakan rasa trauma, tapi itu hanya akan terjadi sementara, di waktu yang lain luka itu akan terasa lagi.

Lalu bagaimana cara untuk membantu orang yang mempunyai trauma? Yaitu dengan cara membuatnya tidak merasa sendiri. Rasa luka yang mendalam dan kegelapan akibat trauma dapat ditahan dan ditanggung, tidak dalam kesendirian secara emosional. Dibutuhkan orang-orang lain yang mau untuk sama-sama merasakan rasa sakit emosional tersebut, dengan penuh pemahaman, sehingga luka tersebut tidak ditanggung secara sendirian. Agaknya tepat bahwa kita akan menjadi lebih kuat jika bersama dengan orang lain. Jadi, jangan biarkan orang yang trauma merasa sendiri..

30
Des
10

Teknik Kesepakatan

enam prinsip/teknik dasar untuk memperoleh kesepakatan:
1. Pertemanan/rasa suka (Ingratiation): umumnya, kita lebih bersedia utk memenuhi permintaan dari teman/orang-orang yang kita sukai daripada permintaan dari orang asing atau orang-orang yang tidak kita sukai.
–> teknik ingratiation yang paling efektif:

rayuan(flattery) – memuji orang lain (atau org2 yg dekat dg orang lain itu) dengan cara-cara tertentu.

memperbaiki/memperindah penampilan

mengeluarka banyak tanda-tanda nonverbal yg positif

melakukan kebaikan-kebaikan kecil

2. Komitmen/Konsistensi: artinya orang akan lebih mudah untuk di ajak bersepakat tentang suatu yang berhubungan secara konsisten dengan komitmen yg ia miliki itu.

–> teknik foot-in-the door: membuat orang menyetujui terhadap permintaan kecil, lalu setelah orang itu setuju, disodorkan permintaan yg lebih besar (yg diinginkan).

–> teknik low ball: penawaran/persetujuan diubah (menjadi lebih tidak menarik) setelah orang yang menjadi target terlanjur menerimanya. Misal: konsumen ditawari sebuah mobil yg sangat menarik. Ketika sudah diterima oleh konsumen, penawaran itu ditolak oleh manajer, dengan menaikkan harga/membuat suatu perubahan yang tidak menguntungkan konsumen. Konsumen sering kali menerima penawaran tersebut.

3. Kelangkaan: orang akan lebih mudah menerima kesepekatan jika hal itu adalah hal yang langka, dibandingkan dengan yang tidak langka.

–> playing hard to get (jual mahal): memberikan kesan bahwa seseorang atau obejk adalah langka dan sulit diperoleh.

klo ingin jadi karyawan, tunjukkan bahwa kita mungkin akan direkrut oleh perusahaan lain, kita sangat diinginkan.

dengan memberi kesan bahwa sulit untuk mendapatkan kasih sayang, maka individu akan meningkatkan kemungkinan untuk disukai.

–> teknik deadline: orang yang menjadi target diberi tahu bahwa mereka memiliki waktu yang terbatas untuk mengambil keuntungan dari beberapa tawaran atau untuk memperoleh suatu barang.

4. Timbal balik/resiprositas: orang lebih mudah memenuhi permintaan dari orang yang sebelumnya telah memberikan bantuan atau kemudahan bagi kita daripada terhadap orang yang tidak pernah melakukannya. Dengan kata lain kita harus membayar apa yang telah dilakukan oleh orang lain.

–> teknik door-in-the-face: pemohon memulai dengan permintaan yg besar dan kemudian ketika permintaan ini ditolak, mundur ke permintaan yang lebih kecil (yg sebenarnya yang dekat dengan yang diinginkan).

–> teknik that’s-not-all: menawarkan keuntungan tambahan kepada orang-orang yang menjadi target, sebelum mereka memutuskan apakah mereka hendak menuruti atau menolak permintaan spesifik yang diajukan. –efek ini berhasil utk harga-harga yang lebih rendah.

5. validasi sosial: “hal itulah yang dilakukan oleh orang-orang seperti kita”, bila orang itu percaya, biasanya ia akan lebih mudah menerima kesepekatan kita.
Orang lebih mudah memenuhi permintaan untuk melakukan beberapa tindakan, jika tindakan tersebut konsisten dengan apa yang kita percaya/dipikirkan oleh orang yang mirip dengan kita.

6. Kekuasaan: orang lebih bersedia memenuhi permintaan orang yang berkuasa

taktik lain:

1. teknik Pique:
minat orang yang menjadi target distimulasi dengan permintaan yang tidak umum, sehingga mereka tidak menolak permintaan secara otomatis, karena kebiasaan mereka.

2. menempatkan seseorang dalam suasana yang baik dulu (sama dengan ingragatiation).

PS (dari pengarang buku): Betapa menyedihkan bahwa taktik-taktik pengaruh sosial seringkali digunakan untuk hasil yang mementingkan diri sendiri!

dari buku: “Psikologi Sosial” Jilid 2, edisi kesepuluh (hal 70 – 78) Penulis: Robert A. Baron & Donn Byrne

19
Apr
09

CBT (Cognitive Behavioral Therapy) – REBT (Rational Emotive Behavioral Therapy)

Tokoh CBT : Beck ; Tokoh REBT : Albert Ellis ; Pada awalnya Beck dan Albert Ellis adalah psikoanalis.
Beck menemukan bahwa kognisi pasien memilik dampak yang luar biasa terhadap perasaan dan perilaku pasien tersebut = kesulitan emosional dan perilaku yang dialami seseorang dalam hidup disebabkan oleh cara mereka menginterpretasikan dan memahami berbagai peristiwa.
Beck mengemukakan apa yang disebut Model Distorsi Kognitif:
=> pengalaman berupa ancaman akan berakibat hilangnya kemampuan memproses informasi secara efektif (distorsi kognitif). Atau situasi yang mengancam dapat menyebabkan:
Tekanan psikologis
Pemrosesan kognitif normal tidak berjalan sempurna
Persepsi dan interpretasi terhadap suatu situasi menjadi sangat selektif, egosentris, dan rigid.
Fungsi korektif (mengetes realitas dan penyaringan konseptualisasi global) melemah.
Penurunan kemampuan untuk “mematikan” pemikiran menyimpang.
Penurunan kemampuan untuk berkonsentrasi terhadap pemikirannya.
Penurunan kemampuan untuk mengingat pemikirannya.
Penurunan kemampuan untuk menjelaskan pemikirannya.
Beberapa jenis distorsi kognitif adalah:
Generalisasi berlebihan: menarik kesimpulan umum dari bukti yang terbatas.
Contoh: seorang gagal melewati ujian mengemudi kali pertama, maka ia mungkin akan menggeneralisasi hal tersebut secara belebihan dengan menyimpulkan tidak perlu repot-repot untuk mencoba kedua kalinya karena ia tidak akan pernah bisa lulus.
Pemikiran dikotomis (dichotomous thinking): melihat situasi dari kerangka kutub yang berlawanan.
Contoh:
- seseorang melihat dirinya sebagai yang terbaik, waktu ia melihat bahwa ia tak mampu mencapai kompetensi puncak, orang ini merasa gagal total.
- seseorang melihat orang lain sebagai orang yang benar-benar “jahat” atau “baik”.
Kecenderungan untuk membayangkan berbagai peristiwa yang ada pasti berkaitan dengan tindakannya, walaupun tidak ada koneksi yang logis yang dapat dibuat antara peristiwa tsb dengan tindakannya.
Contoh: dalam hubungan berpasangan, salah seorang melihat pasangannya tidak bergairah, lalu hal itu dianggap karena pengaruh dari perilakunya, terlepas dari adanya bukti yang cukup (menyalahkan dirinya, menganggap pasangannya tidak bergairah karena dirinya). Padahal bisa saja pasangannya itu tidak bergairah karena tekanan pekerjaan, atau sumber eksternal yang lain.
Kesimpulan yang berubah-ubah (arbitrary inference): jika saya gagal dalam ujian hari ini maka saya pasti seseorang yang benar-benar bodoh)
Personalisasi: tukang gas terlambat datang karena semua yang ada di kantor tersebut membenci saya.
Berhubungan dengan distorsi kognitif, Williams (1996) telah melaksanakan sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa orang-orang yang cemas, yang sedang mengalami pengalaman hidup yang sulit, sering kali kesulitan dalam mengingat peristiwa menyakitkan tersebut secara detail. Ini dinamakan distorsi memory. Memori mereka telah melakukan generalisasi berlebihan sehingga mereka mengingat “sesuatu terjadi”, tapi mereka tidak mampu mengingat detil peristiwa tersebut.
Dalam terapi: klien dibantu untuk memperhatikan “dialog internal”, yaitu aliran pemikiran otomatis yang mengiringi dan membimbing aksi mereka  sehingga mereka akan dapat memilih pernyataan diri yang tepat, dan jika perlu mengemukakan pemikiran dan ide baru yang akan mengarah kepada hidup yang lebih memuaskan.
Ellis menemukan bahwa masalah emosional sebenarnya disebabkan oleh pemikiran yang irasional, atau keyakinan-keyakinan yang keliru. Walaupun pemicu masalah emosional adalah pengalaman-pengalaman nyata dan memang benar-benar menyebabkan penderitaan, namun sesungguhnya keyakinan irasional kitalah yang memperumit dan memperbesar persoalan.
Teori REBT dimulai dengan ABC.
A = activating experiences = pengalaman-pengalaman pemicu, seperti kesulitan-kesulitan keluarga, kendala-kendala pekerjaan, trauma-trauma masa kecil, dan hal-hal lain yang kita anggap sebagai penyebab ketidakbahagiaan.
B = beliefs = keyakinan-keyakinan, terutama yang bersifat irasional dan merusak diri sendiri yang merupakan sumber ketidakbahagiaan kita.
C = consequence = konsekuensi-konsekuensi berupa gejala neurotik dan emosi-emosi negative seperti panic, dendam, dan amarah karena depresi yang bersumber dari keyakinan-keyakinan yang keliru.
Ellis mengemukakan 12 Ide Irasional yang menyebabkan dan memperparah neurosis:
1.Ide bahwa tiap orang dewasa pasti merasa ingin dicintai orang lain atas segala yang dia lakukan – bukannya gagasan yang memfokuskan perhatian pada apa yang dia lakukan demi mencapai tujuan-tujuan praktis demi kepentingan orang lain, atau gagasan untuk mencintai orang lain ketimbang selalu menuntut cinta dari orang lain.
2.Ide bahwa ada tindakan-tindakan tertentu yang jelek dan merusak, dan pelakunya mesti dikecam karena tidak tahu malu – bukannya gagasan bahwa tindakan-tindakan tertentu ada yang merugikan diri sendiri atau anti sosial, dan pelakunya pastilah tidak punya pertimbangan yang sehat, masa bodoh atau neurotik, dan seharusnya mereka ini dibantu mengubah diri. Buruknya tindakan seseorang belum tentu menyebabkannya menjadi individu yang tidak berguna.
3.Ide bahwa “dunia akan kiamat” kalau segala sesuatunya tidak berjalan sesuai rencana – bukannya gagasan bahwa segala sesuatu walaupun berjalan tidak sesuai keinginan, akan lebih baik kalau kita berusaha mengubah atau mengatur kondisi buruk tersebut sedemikian rupa seingga setelah itu besar kemungkinan kita akan berhasil mengatasi segala kesulitan. Kalaupun kemungkinan itu tidak ada, kita pun akan lebih baik bersabar menerima kenyataan dan tetap berusaha mencari jalan keluar.
4.Ide bahwa hal-hal yang membuat manusia menderita pasti datang dari luar dan ditimpakan pada diri kita oleh orang lain – bukannya gagasan bahwa sikap neurotik itu disebabkan oleh pandangan=pandangan kita sendiri akibat kondisi yang tidak menguntungkan di sekeliling kita.
5.Ide kalau satu hal sangat menakutkan atau berbahaya, maka kita seharusnya sangat terobsesi dengan hal itu – bukannya gagasan bahwa kita seharusnya dengan tabah menghadapi keadaan itu dan memandangnya sebagai bukan akhir dari segala-galanya.
6.Ide bahwa lebih mudah menghindar dari kesulitan hidup dan tanggung jawab ketimbang berusaha menghadapi dan menaklukannya – bukannya berpegang pada gagasan bahwa jalan yang mudah pada akhirnya akan menyusahkan diri sendiri.
7.Ide bahwa kita membutuhkan sesuatu yang lebih kuat atau lebih besar dari kita sendiri yang dapat dijadikan pegangan – bukannya gagasan bahwa lebih baik berpikir dan bertindak sesuai kehendak sendiri dengan apa pun resikonya.
8.Ide bahwa kita harus selalu punya kemampuan dan kecerdasan serta selalu berhasil mengelolanya dengan baik – bukannya gagasan bahwa lebih baik bertindak sesuai dengan kemampuan ketimbang hanya punya keinginan melakukan hal terbaik dan tidak mau menerima kenyataan bahwa diri kita adalah makhluk yang tidak sempurna dan pasti melakukan kesalahan.
9.Ide bahwa ketika satu peristiwa besar terjadi, peristiwa tersebut pasti berbekas dan mempengaruhi kehidupan kita selamanya – bukannya gagasan bahwa apa yang terjadi di masa lalu mesti dijadikan pelajaran buat hari ini dan masa yang akan datang, serta tidak selalu terpaku pada peristiwa masa lalu.
10.Ide bahwa kita harus mampu mengatur sesuatu dengan baik – sebagai pengganti dari gagasan bahwa dunia ini penuh dengan kemungkinan-kemungkinan tak terduga dan kita tetap bisa menjalani kehidupan dengan segala kemungkinan ini.
11.Ide bahwa kebahagiaan bisa dicapai dengan bakat alami yang ada dalam diri seseorang sejak lahir dan kebahagiaan itu ditujukan untuk diri sendiri – bukannya gagasan bahwa keinginan kita untuk bahagia ditentukan oleh kemauan kita mencapai tujuan secara kreatif atau selalu berusaha memproyeksikan usaha mencapai kebahagiaan itu keluar.
12.Ide bahwa kita pada akhirnya tidak dapat menguasai perasaan sendiri dan perasaan kecewa terhadap sesuatu pasti tidak bisa dielakkan – bukannya gagasan bahwa kita sebenarnya mampu mengontrol perasaan-perasaan buruk jika kit amau mengubah pengandaian-pengandaian yang menyebabkan lahirnya perasaan-perasaan buruk itu.
Secara ringkas, Ellis mengatakan ada tiga keyakinan irasional:
1.“saya harus mempunyai kemampuan sempurna, atau saya akan jadi orang yang tidak berguna”.
2.“orang lain harus memahami dan mempertimbangkan saya, atau mereka akan menderita.”
3.“kenyataan harus member kebahagiaan pada saya, atau saya akan binasa.”
Ellis juga menekankan pentingnya “kerelaan menerima diri sendiri”. Dia mengatakan bahwa tidak seorang pun yang akan disalahkan, dilecehkan, apalagi dihukum atas keyakinan atau tindakan mereka yang keliru. Kita haus menerima diri apa adanya, menrima sebagaimana apa yang kita capai dan hasilkan.
Dalam terapi:
Setelah rumus ABC, Ellis menambahkan rumus D dan E untuk terapis mengatasi masalah tersebut:
D = dispute = melawan keyakinan-keyakinan irasional itu.
Sehingga…
E = effects = klien menikmati dampak-dampak psikologis positif dari keyakinan-keyakinan yang rasional.
Para terapis harus bisa menentang keyakinan-keyakinan irasional, akan lebih baik lagi kalau mampu mengarahkan klien mencari argumen untuk membantah keyakinan irasional tersebut. Contoh:
1.Apakah ada bukti kuat yang mendukung keyakinan-keyakinan ini?
2.Lalu apa bukit yang melawan keyakinan-keyakinan ini?
3.Kira-kira apa dampak buruk yang akan terjadi kalau seandainya keyakinan-keyakinan ini ditinggalkan?
4.Apa pula dampak-dampak positif yang akan terjadi kalau keyakinan-keyakinan ini ditinggalkan?
Selain itu ada teknik-teknik lain seperti diskusi kelompok, pertimbangan-pertimbangan positif, kegiatan yang berisiko ganda, latihan-latihan empati, kepercayaan diri, dsb.

21
Feb
09

Faktor DQ

Mengapa kita berkelakuan buruk?
Abraham Maslow dengan hierarki kebutuhannya, kebanyakan perilaku dirancang untuk membuat kita merasa lebih penting, lebih berarti, dan bahwa kita berada di tempat yang tepat. anak-anak dan remaja, dan banyak juga orang dewasa, sering memulai suatu petualangan yang salah arah dengan berbuat atau mengatakan hal-hal yang salah (kelakuan buruk) didasari oleh kebutuhan untuk merasa penting, merasa berarti, dan bahwa mereka berada di tempat yang tepat. Bukan berarti bahwa tujuan-tujuan ini tidak penting – semua itu penting bagi kehidupan yang sehat. Namun demikian, metode-metode palsu untuk mencapainya, itulah yang menyebabkan permasalahannya. Oleh karena itu, sebagai kunci untuk memahami setiap perilaku buruk adalah pertama-tama memahami alasan (atau motivasi) di balik itu.
Alasannya:
Semua bentuk perilaku buruk memiliki tujuan (sekalipun berada di bawah sadar) merupakan gejala dari kebutuhan yang lebih dalam. Entah perilaku buruk itu dilakukan untuk menantang otoritas, memperoleh simpati, menarik perhatian, atau sebagai balas dendam, itu hanyalah usaha dengan logika yang dilakukan seseorang untuk mencapai tujuan yang sebenarnya – merasa penting, dicintai, dan berada di tempat yang tepat.
Menurut Freud, manusia secara moral dan etika dibimbing oleh satu bagian dari jiwa yang disebut superego. Bagian dari pikiran inilah yang menciptakan hasrat untuk melakukan yang baik, menghindari perasaaan bersalah, dan bahkan akhirnya mencapai kesempurnaan. Freud mengatakan bahwa “superego” adalah perwakilan kita atas setiap batasan moral, penasihat bagi setiap usaha menuju kesempurnaan…dari apa yang digambarkan sebagai sisi yang lebih tinggi dari kehidupan manusia (“New Introductory Lectures”. Journal of Psychology [1933]: 66). Menurut Psikologi modern, kita melewati rangkaian sehari-hari ini, antara bersikap baik dan bersikap buruk, didasarkan pada seberapa terdefinisi dengan baik dan terkelolanya superego itu. dengan kata lain, superego yang kurang berkembang lah yang mendorong perilaku itu.
Menurut Dr. Greg Cynaumon, dan beberapa ahli dalam bidang perilaku, sepakat bahwa penyebab dari perilaku buruk di kalangan anak-anak adalah ketidakmampuan untuk mengevaluasi pilihan-pilihan dan ketidakmampuan untuk membedakan yang salah dan yang benar. Penekanan riset adalah bukan bagaimana anak-anak berlaku buruk, tapi apa yang menghilhami dan memotivasi mereka untuk berlaku buruk. Motivasi apa yang mendorong perilaku buruk itu?
Yang mendekati teori DQ ini adalah ahli terapi tidak terkenal bernama Rudolph Dreikurs, yang mempelajari berbagai macam teknik disiplin dan kemungkinan sukses mereka adalah suatu terobosan.
Abraham Maslow mebembangkan teori tentang hierarki kebutuhan manusia. Maslow yakin bahwa agar seseorang mencapai aktualisasi diri (kebahagiaan dan kepuasan sejati), ia harus memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya.
Hierarki kebutuhan Maslow dimulai dengan “kebutuhan fisiologis”, “rasa aman”, “memiliki dan mencintai”, “penghargaan diri” ,dan terakhir: “mencapai aktualisasi diri”.
Salvador Minuchin adalah salah satu di antara “para raksasa” yang membangun konsep terapi keluarga pada tahun 1950-an.

PERC (Parent’s Emotional Response Chart) untuk digunakan dalam menentukan faktor DQ anak.
Faktor DQ #1 – Beruang
Terancam, Tertantang, Marah
Faktor DQ # 2 – Monyet
Terganggu, Jengkel, Terkontrol
Faktor DQ #3 – Landak
Terluka, dimanipulasi, diremehkan
Faktor DQ #4 – Domba

Faktor DQ #4 – Domba
Resep DQ untuk para domba
Pemukulan    17 %    Teguran verbal    23 %    Pembatasan    22 %
Memukul perlahan    25%    Time-out di kamar    19 %    Mencabut hak-hak istimewa    77 %
Mengabaikan    69 %    Proximity time out    72 %    meremehkan    0 %
ancaman    23 %    Konsekuensi alamiah    77 %

Resep-resep DQ:
#1. Proximity Time out, adalah time out dengan menghindari aspek-aspek keterpisahan. artinya, tidak mengucilkan anak dari teman-teman sekelasnya dengan mengusirnya keluar dari ruangan, menciptakan jarak secara emosional, namun tidak secara fisik. misalnya, dengan menempatkan sebuah kursi di pojok ruangan yang menghadap tembok, sebagai tempat untuk time out nya.
#2, Konsekuensi Alamiah, kita harus tahu bahwa mereka mesti mendapatkan konsekuensi, jangan terlalu melindungi.
#3, Konsekuensi Logis, bila konsekuensi alamiah sangat berbahaya, maka dialihkan dengan konsekuensi logis. Misalnya biarkan anak anda mencelupkan jarinya ke mangkuk yang berisi air hangat, lalu katakan, bila ia akan lebih merasakan panasnya kompor kalau terus main2 dengan api kompor.
#4, Studi Tiga Berbanding Satu, yaitu memberikan pujian berbanding 3 : 1, 3 pujian 1 koreksi. tidak lebih tidak kurang, akan lebih menghasilkan untuk domba.
#5, Mengabaikan, dampaknya kecil pada domba, namun masih direkomendasikan. setiap kali domba mengatakan sesuatu spt, “aku bodoh” atau “aku tidak bisa”, jangan terperangkap ke dalam mengatasi perilaku negatif itu.
#6, Kasih tak bersyarat, ungkapkan kasih tak bersyarat itu. pujilah ia.
#7, keajaiban tradisi, tradisi keluarga untuk meluangkan waktu bersama-sama.
#8, bersikap positf, berikanlah lingkungan yang positif pada anak2 domba, beri pujian,kasih saying, dan dorongan semangat yang berlimpah.
#9, buat domba anda bekerja (setumpuk kartu tugas), untuk menghukum mereka bila berperilaku buruk.
#10, mendengarkan dengan seksama

Faktor DQ #3 Landak
Pemukulan    12 %    Teguran verbal    47 %    Pembatasan    19 %
Memukul perlahan    22%    Time-out di kamar    21 %    Mencabut hak-hak istimewa    54 %
Mengabaikan    20 %    Time out dengan penjelasan    41 %    meremehkan    (- ) %
ancaman    16 %    Konsekuensi alamiah    76 %

Resep #1 Konsekuensi Alamiah, memberikan konsekuensi alamiah bila tidak melaksanakan tugas-tugasnya.
Resep #2, Penyingkapan yang tidak disengaja, merupakan metode interogasi untuk memahami kebenaran dari anak.
Resep #3, Pengendalian diri
Resep #4, Tetap pada subjek.
Resep #5, Mendengarkan dengan penuh empati
Resep #6, Mendengarkan dengan seksama
Resep #7, Rasa bersalah yang ditangguhkan, menangguhkan diri dari rasa bersalah (karena itulah landak balas dendam) dan memaksanya melihat permasalahan sekarang. “Aku menyesal “kau memilih” melakukan X”. SEhingga perilaku buruknya karena pilihannya sendiri.
Resep #8, Menyuruh si Landak bekerja (setumpuk kartu tugas)

Faktor DQ #2 Monyet
Pemukulan    21 %    Teguran verbal    29 %    Pembatasan    58 %
Memukul perlahan    36 %    Time-out di kamar    83 %    Mencabut hak-hak istimewa    68 %
Mengabaikan    78 %            meremehkan    (- ) %
ancaman    19 %    Konsekuensi alamiah    76 %

Resep #1 Konsekuensi Alamiah, dengan tenang memberikan konsekuensi alamiah kepada anak.
Resep #2 Konsekuensi Logis, bila konsekuensi alamiah menjurus pada bahaya.
Resep #3, Mengabaikan,
Resep 4#, Substitusi, menggantikan perilaku bermasalah dengan perilaku yang kurang lebih sama namun lebih pantas.
Resep 5#, menangkap basah mereka sedang melakukan sesuatu yang benar, dan dipuji.
Resep 6#, Membuat si monyet bekerja (setumpuk kartu tugas)
Resep 7#, Mendengarkan dengan seksama

Faktor DQ #3 Beruang
Pemukulan    8 %    Teguran verbal    23 %    Pembatasan    54 %
Memukul perlahan    23%    Time-out di kamar    73 %    Mencabut hak-hak istimewa    69 %
Mengabaikan    81 %            meremehkan    2  %
ancaman    17 %

Resep #1, Mengakui, menyadari, dan memiliki bagian anda
Resep #2, Mengabaikan atau tidak membiarkan si Beruang menguasai anda
Resep #3, Mempengaruhi perubahan dengan tidak menantang si beruang
Resep #4, Beralih pada bom tepat sasaran – tidak menumpukkan dosa-dosa masa lalu, tidak mengatakan bahwa kamu tidak pernah begini begitu, dst, tapi dengan mengatakan “tidak biasanya kau begini, aku memandangmu sebagai anak yang jujur, sehingga aku terkejut bahwa engkau mengambil kue sementara aku melarangmu. namun yang melukai perasaanku adalah bahwa engkau menatap mataku dan berbohong mengenainya. aku tidak heran jika orang lain yang berbuat demikian, tetapi tidak ada seorang pun yang begitu jujur seperti dirimu. (cara manipulative) – untuk memberikan motivasi internal.
Resep #5, Para beruang menolak pembatasan yang tidak logis., biarkan beruang sesekali menang-terutama saat ia benar.
Resep #6, Para beruang membutuhkan waktu berkuantitas
Resep #7, Menerima konsekuensi yang alamiah manakala mungkin
Resep #8, Menyuruh si Beruang mengerjakan (setumpuk tugas-tugas)
Resep #9, Penyingkapan yang tidak disengaja

(diambil dari buku “Discovering Your Child’s DQ Factor; The Discipline Quotient Factor – oleh: Dr. Greg Cynaumon)


16
Feb
09

“Ngintip” Teori Psikoanalitika Jung

Menurut Jung, perilaku manusia dipengaruhi oleh dinamika yang terjadi di dalam Psyche (jiwa). Psyche (jiwa) dibagi menjadi tiga:

1. Ego (conscious)
2. Personal Unconscious
3. Collective Unconscious

keterangan:
1. Ego adalah pusat kesadaran, merepresentasikan kesatuan dari kesadaran manusia.

2. Personal Unconscious (ketidaksadaran personal): bagian dari kepribadian manusia yang tidak disadari, tapi bisa dikeluarkan ke alam kesadaran. Termasuk memori, dan hal-hal yang sudah direpress (ditekan ke alam tidak sadar).

3. Collective Unconscious (Ketidaksadaran kolektif): bagian dari ketidaksadaran yang merupakan turunan dari nenek moyang.

Di dalam Collective Unconscious terdapat “Arketipe-arketipe”

Arketipe sering disebut juga dengan dominant, imago, mythology, primordial image, dan lain-lain

Arketipe adalah kecenderungan yang tidak dipelajari, untuk mengalami sesuatu, dengan suatu cara tertentu.

Arketipe bekerja seperti “insting” pada teori Freud

Macam-macam arketipe:

- Mother

- Mana (kekuatan spiritual)

- Shadow (seperti hewan, merupakan insting untuk hidup dan berhubungan sex)

- Persona : topeng yang kita kenakan untuk ditunjukkan ke dunia luar. Merupakan arketipe yang paling dekat dengan kesadaran.

- Anima: peran laki-laki (pada seorang perempuan, terdapat bagian yang dinamakan Anima, atau bagian laki-laki)

- Animus: peran perempuan (pada seorang laki-laki, juga terdapat bagian yang dinamakan Animus, atau bagian perempuan)

- Father

- Anak

- Keluarga

- The self : kesatuan kepribadian yang paling pokok. Yang mendorong kita untuk mencapai “penyatuan” dalam arti spiritual. Seperti seorang Budha

- dll (Jung mengatakan bahwa masih banyak arketipe-arketipe lain, yang tidak sempat diidentifikasi)

Prinsip/Hukum Psyche:
1. Berlawanan: sesuatu yang berlawanan dalam diri manusia, adalah yang membuat munculnya “energi”/”power”/”libido”.

2. Equivalence: energi dari hal yang berlawanan diatas, disalurkan secara seimbang ke masing-masing sisi.

3. Entropi: energi yang sudah disalurkan tadi cenderung untuk menyatu lagi, sehingga energi mengalami pengurangan. Bila seseorang sudah mengalami penyatuan energi yang sempurna, dinamakan “Transenden”.

Contohnya seperti ini, pada waktu masih remaja, kita memandang perbedaan laki-laki dan perempuan itu sangat kontras. Yang laki-laki terdorong untuk tampil macho. Yang perempuan, terdorong untuk berdandan. Perbedaan yang kontras itu membuat energi kita besar, atau libido kita tinggi.

Waktu remaja itu, kita mempunyai dua pilihan yang bertentangan. Menjadi remaja yang baik, atau menjadi remaja yang buruk. Ada energi yang bisa membuat kita berkelakuan baik, ada energi yang bisa membuat kita berkelakukan buruk. Semuanya mempunyai kesempatan yang sama. Itu karena hukum ekuivalen. Bila kita akhirnya memilih untuk berbuat baik, maka energi untuk berbuat buruk harus kita terima, sehingga akan membantu kita lebih berkembang. Tapi bila kita tidak menerima bahwa kita ada keinginan untuk menjadi buruk, maka energi akan terepress (tertekan). Energi yang terepress tersebut akan menimbulkan Complex. Complex adalah pola dari perasaan-perasaan atau pikiran-pikiran yang tertekan, yang kemudian mengumpul, dalam suatu bentuk yang disediakan oleh arketipe. Ini bisa muncul dalam bentuk mimpi. Bila parah, bisa muncul dalam bentuk kepribadian ganda.

Waktu kita makin tua, kita makin memandang persaman dari laki-laki dan perempuan. Bahwa manusia itu terdiri dari laki-laki dan perempuan. Bahwa yang buruk dan yang baik itu memang ada dalam diri manusia. Dan lain-lain. Bila kita sudah mengalami hal tersebut, maka terjadilah entropi.

Synchronity: bahwa masa depan, masa lalu, masa sekarang, adalah satu kesatuan. Realitas adalah satu. Pengertian tentang hal ini lebih mudah dipahami bila kita memahami ajaran agama Hindu.

Typologi manusia:
Manusia tipenya dibagi menjadi:
1. Introvert : lebih ke dunia internal (pikiran, perasaan, fantasi, mimpi, dll). Ego lebih mengarah ke Collective Unconscious dan arketipe-arketipenya.

2. Extrovert: lebih ke dunia luar/external (obyek-obyek di luar, orang-orang, aktivitas-aktivitas). Ego lebih mengarah ke persona.

Functions:
Bagaimana manusia memandang dunia, itu ada 4 cara:
1. sensing: merasakan (termasuk melihat, mendengar, dan lain-lain secara indrawi). Merupakan fungsi irasional.
2. Thinking: mengevaluasi/memikirkan (termasuk memutuskan, menghakimi, dll). Merupakan fungsi rasional.
3. Intuiting: semacam persepsi yang bekerja dalam proses sadar yang tidak biasanya. Merupakan fungsi irasional.
4. Feeling: merespon dengan emosi. Termasuk fungsi rasional.

Gabungan dari tipe Introvert-Ekstrovert dengan Functions, menghasilkan 8 tipologi manusia.

(Tulisan ini penjelasannya emang kurang, jadi pasti kurang bisa dipahami bagi yang tak pernah baca teori Jung. Untuk lebih memahami tentang teori Jung, disarankan baca tulisan George Boeree, tulisan beliau lebih mudah dipahami daripada tulisan-tulisan lain yang sudah saya (pembuat blog ini) baca. Setelah baca tulisan George Boeree, saya bisa simpulkan bahwa sebenarnya pemikiran Jung tidak begitu rumit. Bahkan menarik. Tulisan ini pun sebenarnya cuman menerjemahkan dan menyingkat tulisan George Boeree. Dalam tulisannya, Goerge Boeree juga menyarankan buku-buku bacaan yang lebih mudah dipahami. Tulisan George Boeree dapat ditemukan di internet, tapi bahasa Inggris, dan sayangnya, saya lupa alamatnya..(^_^;)

- Lou Dewanenonli -




Blog Stats

  • 9,480 hits

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.