16
Feb
09

“Ngintip” Teori Psikoanalitika Jung

Menurut Jung, perilaku manusia dipengaruhi oleh dinamika yang terjadi di dalam Psyche (jiwa). Psyche (jiwa) dibagi menjadi tiga:

1. Ego (conscious)
2. Personal Unconscious
3. Collective Unconscious

keterangan:
1. Ego adalah pusat kesadaran, merepresentasikan kesatuan dari kesadaran manusia.

2. Personal Unconscious (ketidaksadaran personal): bagian dari kepribadian manusia yang tidak disadari, tapi bisa dikeluarkan ke alam kesadaran. Termasuk memori, dan hal-hal yang sudah direpress (ditekan ke alam tidak sadar).

3. Collective Unconscious (Ketidaksadaran kolektif): bagian dari ketidaksadaran yang merupakan turunan dari nenek moyang.

Di dalam Collective Unconscious terdapat “Arketipe-arketipe”

Arketipe sering disebut juga dengan dominant, imago, mythology, primordial image, dan lain-lain

Arketipe adalah kecenderungan yang tidak dipelajari, untuk mengalami sesuatu, dengan suatu cara tertentu.

Arketipe bekerja seperti “insting” pada teori Freud

Macam-macam arketipe:

– Mother

– Mana (kekuatan spiritual)

– Shadow (seperti hewan, merupakan insting untuk hidup dan berhubungan sex)

– Persona : topeng yang kita kenakan untuk ditunjukkan ke dunia luar. Merupakan arketipe yang paling dekat dengan kesadaran.

– Anima: peran laki-laki (pada seorang perempuan, terdapat bagian yang dinamakan Anima, atau bagian laki-laki)

– Animus: peran perempuan (pada seorang laki-laki, juga terdapat bagian yang dinamakan Animus, atau bagian perempuan)

– Father

– Anak

– Keluarga

– The self : kesatuan kepribadian yang paling pokok. Yang mendorong kita untuk mencapai “penyatuan” dalam arti spiritual. Seperti seorang Budha

– dll (Jung mengatakan bahwa masih banyak arketipe-arketipe lain, yang tidak sempat diidentifikasi)

Prinsip/Hukum Psyche:
1. Berlawanan: sesuatu yang berlawanan dalam diri manusia, adalah yang membuat munculnya “energi”/”power”/”libido”.

2. Equivalence: energi dari hal yang berlawanan diatas, disalurkan secara seimbang ke masing-masing sisi.

3. Entropi: energi yang sudah disalurkan tadi cenderung untuk menyatu lagi, sehingga energi mengalami pengurangan. Bila seseorang sudah mengalami penyatuan energi yang sempurna, dinamakan “Transenden”.

Contohnya seperti ini, pada waktu masih remaja, kita memandang perbedaan laki-laki dan perempuan itu sangat kontras. Yang laki-laki terdorong untuk tampil macho. Yang perempuan, terdorong untuk berdandan. Perbedaan yang kontras itu membuat energi kita besar, atau libido kita tinggi.

Waktu remaja itu, kita mempunyai dua pilihan yang bertentangan. Menjadi remaja yang baik, atau menjadi remaja yang buruk. Ada energi yang bisa membuat kita berkelakuan baik, ada energi yang bisa membuat kita berkelakukan buruk. Semuanya mempunyai kesempatan yang sama. Itu karena hukum ekuivalen. Bila kita akhirnya memilih untuk berbuat baik, maka energi untuk berbuat buruk harus kita terima, sehingga akan membantu kita lebih berkembang. Tapi bila kita tidak menerima bahwa kita ada keinginan untuk menjadi buruk, maka energi akan terepress (tertekan). Energi yang terepress tersebut akan menimbulkan Complex. Complex adalah pola dari perasaan-perasaan atau pikiran-pikiran yang tertekan, yang kemudian mengumpul, dalam suatu bentuk yang disediakan oleh arketipe. Ini bisa muncul dalam bentuk mimpi. Bila parah, bisa muncul dalam bentuk kepribadian ganda.

Waktu kita makin tua, kita makin memandang persaman dari laki-laki dan perempuan. Bahwa manusia itu terdiri dari laki-laki dan perempuan. Bahwa yang buruk dan yang baik itu memang ada dalam diri manusia. Dan lain-lain. Bila kita sudah mengalami hal tersebut, maka terjadilah entropi.

Synchronity: bahwa masa depan, masa lalu, masa sekarang, adalah satu kesatuan. Realitas adalah satu. Pengertian tentang hal ini lebih mudah dipahami bila kita memahami ajaran agama Hindu.

Typologi manusia:
Manusia tipenya dibagi menjadi:
1. Introvert : lebih ke dunia internal (pikiran, perasaan, fantasi, mimpi, dll). Ego lebih mengarah ke Collective Unconscious dan arketipe-arketipenya.

2. Extrovert: lebih ke dunia luar/external (obyek-obyek di luar, orang-orang, aktivitas-aktivitas). Ego lebih mengarah ke persona.

Functions:
Bagaimana manusia memandang dunia, itu ada 4 cara:
1. sensing: merasakan (termasuk melihat, mendengar, dan lain-lain secara indrawi). Merupakan fungsi irasional.
2. Thinking: mengevaluasi/memikirkan (termasuk memutuskan, menghakimi, dll). Merupakan fungsi rasional.
3. Intuiting: semacam persepsi yang bekerja dalam proses sadar yang tidak biasanya. Merupakan fungsi irasional.
4. Feeling: merespon dengan emosi. Termasuk fungsi rasional.

Gabungan dari tipe Introvert-Ekstrovert dengan Functions, menghasilkan 8 tipologi manusia.

(Tulisan ini penjelasannya emang kurang, jadi pasti kurang bisa dipahami bagi yang tak pernah baca teori Jung. Untuk lebih memahami tentang teori Jung, disarankan baca tulisan George Boeree, tulisan beliau lebih mudah dipahami daripada tulisan-tulisan lain yang sudah saya (pembuat blog ini) baca. Setelah baca tulisan George Boeree, saya bisa simpulkan bahwa sebenarnya pemikiran Jung tidak begitu rumit. Bahkan menarik. Tulisan ini pun sebenarnya cuman menerjemahkan dan menyingkat tulisan George Boeree. Dalam tulisannya, Goerge Boeree juga menyarankan buku-buku bacaan yang lebih mudah dipahami. Tulisan George Boeree dapat ditemukan di internet, tapi bahasa Inggris, dan sayangnya, saya lupa alamatnya..(^_^;)

– Lou Dewanenonli –


0 Responses to ““Ngintip” Teori Psikoanalitika Jung”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Psikologi Sekilas

Blog Stats

  • 26,937 hits

%d blogger menyukai ini: