21
Feb
09

Faktor DQ

Mengapa kita berkelakuan buruk?
Abraham Maslow dengan hierarki kebutuhannya, kebanyakan perilaku dirancang untuk membuat kita merasa lebih penting, lebih berarti, dan bahwa kita berada di tempat yang tepat. anak-anak dan remaja, dan banyak juga orang dewasa, sering memulai suatu petualangan yang salah arah dengan berbuat atau mengatakan hal-hal yang salah (kelakuan buruk) didasari oleh kebutuhan untuk merasa penting, merasa berarti, dan bahwa mereka berada di tempat yang tepat. Bukan berarti bahwa tujuan-tujuan ini tidak penting – semua itu penting bagi kehidupan yang sehat. Namun demikian, metode-metode palsu untuk mencapainya, itulah yang menyebabkan permasalahannya. Oleh karena itu, sebagai kunci untuk memahami setiap perilaku buruk adalah pertama-tama memahami alasan (atau motivasi) di balik itu.
Alasannya:
Semua bentuk perilaku buruk memiliki tujuan (sekalipun berada di bawah sadar) merupakan gejala dari kebutuhan yang lebih dalam. Entah perilaku buruk itu dilakukan untuk menantang otoritas, memperoleh simpati, menarik perhatian, atau sebagai balas dendam, itu hanyalah usaha dengan logika yang dilakukan seseorang untuk mencapai tujuan yang sebenarnya – merasa penting, dicintai, dan berada di tempat yang tepat.
Menurut Freud, manusia secara moral dan etika dibimbing oleh satu bagian dari jiwa yang disebut superego. Bagian dari pikiran inilah yang menciptakan hasrat untuk melakukan yang baik, menghindari perasaaan bersalah, dan bahkan akhirnya mencapai kesempurnaan. Freud mengatakan bahwa “superego” adalah perwakilan kita atas setiap batasan moral, penasihat bagi setiap usaha menuju kesempurnaan…dari apa yang digambarkan sebagai sisi yang lebih tinggi dari kehidupan manusia (“New Introductory Lectures”. Journal of Psychology [1933]: 66). Menurut Psikologi modern, kita melewati rangkaian sehari-hari ini, antara bersikap baik dan bersikap buruk, didasarkan pada seberapa terdefinisi dengan baik dan terkelolanya superego itu. dengan kata lain, superego yang kurang berkembang lah yang mendorong perilaku itu.
Menurut Dr. Greg Cynaumon, dan beberapa ahli dalam bidang perilaku, sepakat bahwa penyebab dari perilaku buruk di kalangan anak-anak adalah ketidakmampuan untuk mengevaluasi pilihan-pilihan dan ketidakmampuan untuk membedakan yang salah dan yang benar. Penekanan riset adalah bukan bagaimana anak-anak berlaku buruk, tapi apa yang menghilhami dan memotivasi mereka untuk berlaku buruk. Motivasi apa yang mendorong perilaku buruk itu?
Yang mendekati teori DQ ini adalah ahli terapi tidak terkenal bernama Rudolph Dreikurs, yang mempelajari berbagai macam teknik disiplin dan kemungkinan sukses mereka adalah suatu terobosan.
Abraham Maslow mebembangkan teori tentang hierarki kebutuhan manusia. Maslow yakin bahwa agar seseorang mencapai aktualisasi diri (kebahagiaan dan kepuasan sejati), ia harus memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya.
Hierarki kebutuhan Maslow dimulai dengan “kebutuhan fisiologis”, “rasa aman”, “memiliki dan mencintai”, “penghargaan diri” ,dan terakhir: “mencapai aktualisasi diri”.
Salvador Minuchin adalah salah satu di antara “para raksasa” yang membangun konsep terapi keluarga pada tahun 1950-an.

PERC (Parent’s Emotional Response Chart) untuk digunakan dalam menentukan faktor DQ anak.
Faktor DQ #1 – Beruang
Terancam, Tertantang, Marah
Faktor DQ # 2 – Monyet
Terganggu, Jengkel, Terkontrol
Faktor DQ #3 – Landak
Terluka, dimanipulasi, diremehkan
Faktor DQ #4 – Domba

Faktor DQ #4 – Domba
Resep DQ untuk para domba
Pemukulan    17 %    Teguran verbal    23 %    Pembatasan    22 %
Memukul perlahan    25%    Time-out di kamar    19 %    Mencabut hak-hak istimewa    77 %
Mengabaikan    69 %    Proximity time out    72 %    meremehkan    0 %
ancaman    23 %    Konsekuensi alamiah    77 %

Resep-resep DQ:
#1. Proximity Time out, adalah time out dengan menghindari aspek-aspek keterpisahan. artinya, tidak mengucilkan anak dari teman-teman sekelasnya dengan mengusirnya keluar dari ruangan, menciptakan jarak secara emosional, namun tidak secara fisik. misalnya, dengan menempatkan sebuah kursi di pojok ruangan yang menghadap tembok, sebagai tempat untuk time out nya.
#2, Konsekuensi Alamiah, kita harus tahu bahwa mereka mesti mendapatkan konsekuensi, jangan terlalu melindungi.
#3, Konsekuensi Logis, bila konsekuensi alamiah sangat berbahaya, maka dialihkan dengan konsekuensi logis. Misalnya biarkan anak anda mencelupkan jarinya ke mangkuk yang berisi air hangat, lalu katakan, bila ia akan lebih merasakan panasnya kompor kalau terus main2 dengan api kompor.
#4, Studi Tiga Berbanding Satu, yaitu memberikan pujian berbanding 3 : 1, 3 pujian 1 koreksi. tidak lebih tidak kurang, akan lebih menghasilkan untuk domba.
#5, Mengabaikan, dampaknya kecil pada domba, namun masih direkomendasikan. setiap kali domba mengatakan sesuatu spt, “aku bodoh” atau “aku tidak bisa”, jangan terperangkap ke dalam mengatasi perilaku negatif itu.
#6, Kasih tak bersyarat, ungkapkan kasih tak bersyarat itu. pujilah ia.
#7, keajaiban tradisi, tradisi keluarga untuk meluangkan waktu bersama-sama.
#8, bersikap positf, berikanlah lingkungan yang positif pada anak2 domba, beri pujian,kasih saying, dan dorongan semangat yang berlimpah.
#9, buat domba anda bekerja (setumpuk kartu tugas), untuk menghukum mereka bila berperilaku buruk.
#10, mendengarkan dengan seksama

Faktor DQ #3 Landak
Pemukulan    12 %    Teguran verbal    47 %    Pembatasan    19 %
Memukul perlahan    22%    Time-out di kamar    21 %    Mencabut hak-hak istimewa    54 %
Mengabaikan    20 %    Time out dengan penjelasan    41 %    meremehkan    (- ) %
ancaman    16 %    Konsekuensi alamiah    76 %

Resep #1 Konsekuensi Alamiah, memberikan konsekuensi alamiah bila tidak melaksanakan tugas-tugasnya.
Resep #2, Penyingkapan yang tidak disengaja, merupakan metode interogasi untuk memahami kebenaran dari anak.
Resep #3, Pengendalian diri
Resep #4, Tetap pada subjek.
Resep #5, Mendengarkan dengan penuh empati
Resep #6, Mendengarkan dengan seksama
Resep #7, Rasa bersalah yang ditangguhkan, menangguhkan diri dari rasa bersalah (karena itulah landak balas dendam) dan memaksanya melihat permasalahan sekarang. “Aku menyesal “kau memilih” melakukan X”. SEhingga perilaku buruknya karena pilihannya sendiri.
Resep #8, Menyuruh si Landak bekerja (setumpuk kartu tugas)

Faktor DQ #2 Monyet
Pemukulan    21 %    Teguran verbal    29 %    Pembatasan    58 %
Memukul perlahan    36 %    Time-out di kamar    83 %    Mencabut hak-hak istimewa    68 %
Mengabaikan    78 %            meremehkan    (- ) %
ancaman    19 %    Konsekuensi alamiah    76 %

Resep #1 Konsekuensi Alamiah, dengan tenang memberikan konsekuensi alamiah kepada anak.
Resep #2 Konsekuensi Logis, bila konsekuensi alamiah menjurus pada bahaya.
Resep #3, Mengabaikan,
Resep 4#, Substitusi, menggantikan perilaku bermasalah dengan perilaku yang kurang lebih sama namun lebih pantas.
Resep 5#, menangkap basah mereka sedang melakukan sesuatu yang benar, dan dipuji.
Resep 6#, Membuat si monyet bekerja (setumpuk kartu tugas)
Resep 7#, Mendengarkan dengan seksama

Faktor DQ #3 Beruang
Pemukulan    8 %    Teguran verbal    23 %    Pembatasan    54 %
Memukul perlahan    23%    Time-out di kamar    73 %    Mencabut hak-hak istimewa    69 %
Mengabaikan    81 %            meremehkan    2  %
ancaman    17 %

Resep #1, Mengakui, menyadari, dan memiliki bagian anda
Resep #2, Mengabaikan atau tidak membiarkan si Beruang menguasai anda
Resep #3, Mempengaruhi perubahan dengan tidak menantang si beruang
Resep #4, Beralih pada bom tepat sasaran – tidak menumpukkan dosa-dosa masa lalu, tidak mengatakan bahwa kamu tidak pernah begini begitu, dst, tapi dengan mengatakan “tidak biasanya kau begini, aku memandangmu sebagai anak yang jujur, sehingga aku terkejut bahwa engkau mengambil kue sementara aku melarangmu. namun yang melukai perasaanku adalah bahwa engkau menatap mataku dan berbohong mengenainya. aku tidak heran jika orang lain yang berbuat demikian, tetapi tidak ada seorang pun yang begitu jujur seperti dirimu. (cara manipulative) – untuk memberikan motivasi internal.
Resep #5, Para beruang menolak pembatasan yang tidak logis., biarkan beruang sesekali menang-terutama saat ia benar.
Resep #6, Para beruang membutuhkan waktu berkuantitas
Resep #7, Menerima konsekuensi yang alamiah manakala mungkin
Resep #8, Menyuruh si Beruang mengerjakan (setumpuk tugas-tugas)
Resep #9, Penyingkapan yang tidak disengaja

(diambil dari buku “Discovering Your Child’s DQ Factor; The Discipline Quotient Factor – oleh: Dr. Greg Cynaumon)



2 Responses to “Faktor DQ”


  1. 1 nekio
    September 13, 2009 pukul 1:55 pm

    PERC (Parent’s Emotional Response Chart) untuk digunakan dalam menentukan faktor DQ anak.
    Faktor DQ #1 – Beruang
    Terancam, Tertantang, Marah
    Faktor DQ # 2 – Monyet
    Terganggu, Jengkel, Terkontrol
    Faktor DQ #3 – Landak
    Terluka, dimanipulasi, diremehkan
    Faktor DQ #4 – Domba

    saya ingin tanya tentang pembagian di domba itu ap saja ya?
    itu kosong soalnya
    =]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Psikologi Sekilas

Blog Stats

  • 26,937 hits

%d blogger menyukai ini: