22
Nov
10

Oke Anak-anak..Merenung di Rumah ya..!

Saat membaca buku-buku Psikologi yg dari luar negeri, saya perhatikan kebanyakan isinya tidak langsung menunjukkan maksudnya, tapi muter-muter dulu ke sana kemari sehingga kita dibawa untuk membayangkan, atau mungkin juga merenungkan. Mereka (penulis) mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya. Pertamanya saya selalu merasa malas membacanya karena kelihatan banyak sekali yang harus dibaca. Tapi ketika sudah dibaca, rasanya saya lebih merasa mengerti, terkadang saya pun melamunkan apa yang sudah saya baca itu, atau mungkin lebih tepatnya bisa disebut merenungkan. Apakah kalian juga merasakan hal yang sama?

Saya belum pernah ke luar negeri, apalagi bersekolah ke luar negeri. Pengen sih, tapi blm ada biaya. Tapi saya sering mendengar bahwa bedanya pendidikan di luar negeri dengan di Indonesia adalah…di luar negeri tidak menekankan hapalan. Yang ditekankan adalah bagaimana sesuatu dipahami untuk mengatasi permasalahan. Tolong koreksi kalau saya salah, karena saya belum pernah melihat sendiri pendidikan di sana seperti apa. Tapi dari buku-buku impor, baik yang terjemahan maupun yang masih berbahasa Inggris, saya melihat memang sepertinya kita dibawa untuk merenungkan sesuatu, bukan sekedar diberi tahu. Memang akibatnya kita membutuhkan waktu lebih lama untuk membacanya, tapi kita jadi lebih paham terhadap sesuatu hal bahkan permasalahan yg ada padanya.

Sepertinya inilah yang harus dibudayakan kepada anak-anak sekolah saat ini. Karena sepertinya lebih menarik bila belajar itu adalah merenungkan sesuatu, bukan menghapal. Misalnya saja, jika mengajarkan tentang Perang Diponegoro, kita tidak menyuruh mereka membuat ringkasan dari buku, atau mengerjakan soal-soal yang isinya menanyakan kapan perang dipenogoro terjadi, atau sekedar faktor-faktor apa saja yang membuat ini atau itu..melainkan memberi tugas seandainya kita saat itu menjadi ajudan pangeran diponegoro, apa yang sebaiknya kita lakukan setelah pangeran diponegoro ditangkap? Kita harus merenungkan sesuatu dan harus sesuai konteks saat itu. Sehingga tidak akan ada jawaban akan mengerahkan pasukan khusus dengan persenjataan senapan AK 47, atau membalas perbuatan Belanda dengan mengirimkan surat yang mengandung virus (senjata biologis), karena semua belum ada di jaman itu. Jadi harus sesuai dengan yang berlaku saat itu. Kalau seperti itu, pasti anak-anak akan merenungkan tentang kondisi saat itu, dan juga akan berpikir kritis tentang permasalahan saat itu..

Entahlah, tapi menurutku kalau dulu saat sekolah pertanyaannya seperti itu, kayaknya saya jadi lebih seneng mengerjakan pr. Karena saya bisa berkreasi dan merenungkan sesuatu. Bukan menghapalkan banyak hal, tapi setelah itu gak tau manfaatnya apa setelah itu dihapalkan, kecuali untuk bisa naik kelas…

Jadi, karena kita biasanya diberitahu oleh guru..Belajar di rumah ya..dan mendengar kata belajar kayaknya jadi tambah malas..mungkin bisa aja diganti dengan..ok..renungkan di rumah ya..!

Bagaimana menurut pendapat anda?


0 Responses to “Oke Anak-anak..Merenung di Rumah ya..!”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Psikologi Sekilas

Blog Stats

  • 26,937 hits

%d blogger menyukai ini: