21
Jan
13

Anda Mengasuh Anak Anda seperti Orang Tua Anda?

Apakah anda pernah mengalami kejadian dimana kata-kata keluar dari mulut anda, dan itu kedengarannya bukan seperti anda? Misalnya ketika anda membentak pasangan anda atau memarahi anak anda, anda menggnakan kata-kata yang tidak pernah anda ucapkan, atau anda menggunakan ancaman-ancaman yang tidak pernah anda temui sebelumnya. Setelah itu anda merasa bingung selama beberapa saat, dan bertanya-tanya, “Dari mana asal semua itu?”, kemudian anda terhenyak – anda terdengar seperti ibu atau ayah anda!

Untuk hal yang lebih baik atau lebih buruk, banyak sifat-sifat dari orang tua kita tinggal pada diri kita. Identifikasi positif terhadap hal-hal yang kita sukai pada orang tua kita, akan menolong kita untuk mengambil karakteristik yang kita hormati dan kagumi tersebut. Sayangnya, di sisi lain, sifat-sifat negatif dari orang tua kita, terutama yang menyebabkan kita sengsara, takut, dan frustasi, juga dapat berlama-lama tinggal di jiwa kita, dan mempengaruhi tingkah laku kita. Ini terutama terjadi saat kita stress, yang bagaimana-pun telah mengingatkan akan masa lalu kita serta mencoba untuk menonaktifkan pemicu lama dalam diri kita.

Seperti yang mungkin anda bayangkan, skenario-skenario yang mengingatkan masa kecil kita akan cenderung lebih meningkat ketika kita sendiri menjadi orang tua. Mungkin kita tidak terlalu ingat bagaimana ayah kita kita biasa membentak ke pengendara mobil lain saat menyetir, sampai anak kita sendiri mulai bertengkar di tempat duduk belakang. Mungkin kita tidak ingat bagaimana ibu kita merayu kita ketika kita menangis, sampai kita mendapati diri sendiri membuat komen sarkastik kepada anak kita saat anak kita tersebut rewel.

Berita baiknya adalah: dengan memperhatikan sifat-sifat ini dalam diri kita sendiri, lalu mengidentifikasi dari mana asal sifat-sifat itu, kemudian mengubah perilaku kita supaya cocok dengan standar atau prinsip-prinsip kita, maka kita dapat menjauhkan diri (melakukan “differentiation”) dari pemograman negatif di masa lalu tersebut. Kita dapat menjadi lebih seperti seorang tua yang kita inginkan, bukannya orang tua yang telah membesarkan kita.

Ada beberapa langkah-langkah penting pada proses “differentiation”.

Pertama, anda harus menjadi pengamat terhadap reaksi anda sendiri. Anda mesti mencoba menyadari interaksi antara anda dan anak-anak anda yang tampaknya keluar dari karakter anda, atau yang tidak merepresentasikan hal-hal yang anda inginkan. Apakah tingkah laku atau situasi tertentu memicu anda? Misalnya, apakah membantu anak anda mengerjakan PR menimbulkan frustasi dan kekesalan? Apakah rewelnya anak anda membuat anda kehilangan kontrol emosi? Pikirkan tentang kejadian dan skenario yang membawa anda pada interaksi negatif antara anda dan anak anda. Adakah pola?

Langkah kedua, termasuk menanyakan kepada diri sendiri pertanyaan ini, “Mungkinkah saya telah memproyeksikan karakteristik-karakteristik atau dinamika-dinamika dari masa kecil saya? Mungkinkah saya telah menghidupkan kembali atau melakukan kembali aspek-aspek dari masa kanak-kanak saya dengan anak-anak saya sekarang?” Mengetahui hal ini berarti menjadi sadar terhadap bagaimana kita diasuh oleh orang tua kita. Apakah orang tua anda tidak sabar dengan anda saat mereka membantu anda mengerjakan PR? Apakah mereka terlalu menekan, terlalu merasa puas sehingga tidak menyadari ada hal yang tidak baik, atau tidak mendukung? Apakah orang tua anda pernah kehilangan kendali, ketika anda sedang mengalami
kemarahan?

Selagi anda mulai untuk mengenang masa kecil anda, anda mungkin mulai melihat keuntungannya membuat suatu narasi tentang masa lalu anda. Bercerita, bahkan kepada diri sendiri, dapat menolong anda memahami tindakan-tindakan anda di saat sekarang, dan secara sadar menuntun anda untuk bertindak di masa depan.

Berefleksi dan menyusun cerita anda sendiri dapat menyakitkan. Kenangan-kenangan sedih bisa muncul lagi. Kenyataan bahwa orang tua kita hanyalah manusia yang tidak sempurna, dapat terasa berat untuk diterima. Kita mempunyai kecenderungan alami untuk melindungi orang tua kita. Kita bahkan secara tidak sadar ‘mengidentifikasi’ sikap kritis mereka terhadap kita dan sering menganggap pandangan meremehkan mereka terhadap kita sebagai pandangan diri kita sendiri. Orang tua yang menginternalisasi ke dalam diri kita ini adalah apa yang dinamakan ‘critical inner voice’. Kita merasa sangat terancam untuk terpisah dengan orang-orang yang pernah kita andalkan demi mendapat pengasuhan dan keamanan. Namun, dengan mempunyai rasa kasih sayang kepada diri kita saat anak-anak, kita dapat memperlebar perasaan ini kepada anak-anak kita sendiri. Kita dapat memisahkan diri dari sikap-sikap dan sifat-sifat orang tua kita yang tidak kita inginkan
, sambil tetap menjaga hal-hal yang kita kagumi dari mereka.

Sekali kita membuat hubungan antara kejadian lalu dan tingkah laku sekarang, dan sekali kita mempunyai perasaan terhadap diri sendiri dan usaha-usah yang kita pertahankan, maka kita menjadi lebih kuat untuk menantang sikap-sikap negatif kita sebagai orang tua. Kita dapat mempertanyakan sikap dan tingkah laku kritis atau pengabaian kita terhadap anak-anak kita yang mungkin tidak cocok dengan situasi. Kita dapat mengenali, bahwa seperti juga kita bukan orang tua kita, anak-anak kita pun bukanlah diri kita.
Sehingga kita dapat menjadi lebih
terbiasa mengatasi masalah-masalah pada anak-anak kita. Kita dapat mulai terpisah dari orang tua yang tidak kita inginkan dan menjadi orang yang bisa ditiru anak-anak kita.

(Judul Asli: Are You Parenting Like Your Parent? For better or worse, many of our parents’ traits live on in us – Diterjemahkan dari artikel Lisa Firestone, Ph. D. di Psychologytoday.com, yang di terbitkan pada November 29, 2012)


0 Responses to “Anda Mengasuh Anak Anda seperti Orang Tua Anda?”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Psikologi Sekilas

Blog Stats

  • 26,937 hits

%d blogger menyukai ini: