Archive for the 'perilaku' Category

15
Apr
14

Cinta yang Tak Berbalas – Bagaimana Mengatasi Patah Hati Karena Cinta Tak Berbalas (1)

Akupun pernah mengalaminya. Aku begitu menyukainya, tapi ia tidak menyukaiku. Atau aku tidak menyukainya, tapi ia suka banget sama aku.

Hm..tapi untung belum pernah mengalami yang ini:
Aku menyukainya, dia pura-pura menyukaiku, terus akhirnya dia mengkhianatiku..ach..betapa malangnya kalau benar terjadi…

Tapi teman-teman..kata orang, lebih banyak alasan untuk kita tersenyum, daripada alasan untuk kita bersedih, jadi kenapa kita isi hidup kita dengan kesedihan? Yah..tapi kan..terkadang tidak semudah itu..Yah..ngerti kok, aku juga pernah mengalaminya…

Karena itulah, setelah aku ‘berkonsultasi’ kepada beberapa teman untuk mengatasi sakit hati, setelah aku browsing-browsing ke sana kemari, aku menemukan tulisan-tulisan, yang rasanya ingin kutulis kembali dalam bahasa Indonesia. Yaitu cara-cara supaya bisa ‘move-on’ dan sembuh dari patah hati…

Sebenarnya banyak tulisan-tulisan lain yang sudah mengemukakan tentang ini, tapi rasanya yang ini pengen kuhimpun, kuterjemahkan dan kutulis lagi..yah..mungkin bisa memberikan pandangan yang berbeda, dan bisa lebih memantapkan diri kita untuk tidak terus melihat masa lalu yang kelabu, melainkan lebih melihat masa depan yang lebih cemerlang di depan..hahaayy.. ūüėÄ

Bagian Pertama:
Mengatasi Rasa Sakit karena Cinta yang Tak Berbalas :
* sumber-sumber:
http://www.uncommonhelp.me/articles/how-to-handle-the-pain-of-unrequited-love/)

http://www.ehow.com/how_2054274_deal-unrequited-lovedeal-unrequited-love.html
http://us.life.viva.co.id/news/read/495957-7-cara-jitu-melupakan-pria-yang-tak-bisa-dimiliki?utm_source=dlvr.it&utm_medium=facebook

1) Terimalah kenyataan, bahwa ia tidak menyukaimu!

Setelah orang yang kamu suka telah mengatakan,
“Maaf, aku tidak siap.”
“Maaf, aku tidak bisa.”
“Maaf, aku tidak mau”.
“Maaf, aku tidak menyukaimu.”
“Kita teman saja ya”.
“Sori, aku tidak bisa membalas perasaanmu..”
..atau lain-lain yang sejenisnya..peka lah, bahwa ia benar-benar tidak bisa membalas cintamu. Ia
tidak menyukaimu. Ini kenyataan.

Seringkali kita berpikir..”seandainya saja aku dapat membuatnya melihat ketulusanku…” atau “sedikit lagi, mungkin kalau aku bisa berbicara dengannya..ia akan mulai menyukaiku…” atau “seandainya dia memberi ku kesempatan untuk sekedar jalan bersamanya beberapa waktu…”
yah…semacam itulah.. sadarlah..itu semua hanya ilusi. Kalau ia tidak menyukaimu, ya udah. Berhenti mengharapkan dia. CARI CARA LAIN buat mendekati seseorang YANG LAIN.

Sering kita termakan sama cerita fiksi dan fantasi, apalagi di drama-drama Korea yang pernah kulihat, tentang seseorang gadis yang berjuang untuk mendapatkan seorang yang paling populer di kelas…sadarlah, jangan terpengaruh, itu semua hanya fantasi! Kenyataan tidaklah seperti itu.

Aku sendiri juga pernah mengalami jatuh cinta sama seseorang, ia telah bilang “maaf, aku tidak siap”, aku tahu ia menolakku, tapi kupaksakan untuk terus mendekat ke dia. Karena kupikir masih ada harapan. Nyatanya, setelah makin lama berusaha untuk mendekat ke dia, malah membuat dia makin menjauh. Akhirnya ada seorang teman yang berkata..kalau kamu terlihat ‘ngarep’, itu sangat tidak sexy, bahkan sikap itu bisa sangat
memuakkan (kesimpulannya: jangan pernah terlihat terlalu ‘ngarep’ sama seseorang).
Pantesan dia makin menjauh. Temanku itu benar. Kalau kamu sudah ditolak, ya udah jangan diteruskan, cari yang lain! Jangan terperangkap dengan ilusi dan fantasi yang kita buat sendiri. Masih banyak cewek cakep atau cowok menarik lain di sekitar kita.

Pernah juga terjadi, aku pernah menyatakan cinta ke seseorang, tapi tidak dibalas…telpon gak diangkat, sms gak dibalas, ditemui di rumahnya gak pernah ada, atau mungkin sembunyi di mana…lama dia seperti itu…dia makin menjauh. Aku bilang aku hanya ingin jawaban apapun itu..tapi ia tetap saja tidak membalas.

Setelah berkonsultasi dengan teman, yang juga perempuan, akhirnya kusadari, itu artinya ia sebenarnya masih ingin berteman denganku, ia bingung..ia tak bisa membalas perasaaanku, tapi ia juga tak mau putus pertemanan denganku, dan ia tak mau menyakitiku…barulah aku tahu, ia telah menolakku.

Jadi kalau kalian mendapat perlakuan seperti itu, ia diam dan tidak mengatakan apa-apa..sadarilah, itu artinya ia menolakmu. Terima kenyataan itu. Berhenti, jangan terus menyiksa diri dengan mengharapkan dia. Karena itu juga akan menyiksa dia. (Ada penelitian yang mengatakan kalau yang menolak itu merasakan sakit yang sama dengan yang ditolak, bahkan bisa lebih besar, ini akan dijelaskan di bagian kedua)

Ingatlah ini. Kadang-kadang, tahu kapan harus berhenti
adalah langkah pertama untuk menuju kesuksesan.

2) Ketahuilah (benar-benar mengetahui) Siapa yang Kamu Sukai

Jika kita menyukai seseorang, maka secara otomatis kita akan membentuk bayangan tentang orang tersebut, yang bisa jadi jauh berbeda dengan yang sebenarnya. Tidak masalah sih membentuk bayangan tentang seseorang, tapi akan menjadi masalah jika terlalu berlebihan, jika di kenyataan ternyata sangat berbeda.

Kamu menyukainya, atau menyukai fantasi diri sendiri terhadapnya? Kamu menyukai sosok orang itu, atau hanya menyukai proyeksi kreatif mu? Seringkali orang yang jatuh cinta akan merasa bahwa ia ‘benar-benar tahu’ orang tersebut, yang akhirnya membuat ia merasa mempunyai ikatan terhadap orang itu.

Jadi, jika cinta tak berbalasmu terasa memenuhi pikiranmu,
sadarilah

bahwa kamu sebenarnya tidak benar-benar tahu dia. Yang kamu sukai dari dia hanyalah bayangan dan fantasi yang kamu buat tentang dia.

3) Tetap lanjutkan hidupmu yang luas, dan bertumbuhlah.

Pikiran-pikiran bahwa, “tanpa dia, aku tiada berarti..”, “kalau bukan dia, aku tak mau yang lain!”, dan semacam itu..semua adalah pikiran racun. Seolah-olah hanya orang tersebut yang bisa mengatasi permasalahan pribadi kita. Seolah-olah dia yang paling sempurna buat kita.

Jika terus berpikir demikian, pada akhirnya, kita akan mengabaikan apa yang terpenting buat diri kita, yaitu kedekatan emosional yang sesungguhnya. Kita akan menghilangkan kesempatan untuk lebih dekat dengan orang lain, dengan teman-teman lain di sekitar kita. Selain itu, aktivitas-aktivitas rutin dan yang sebenarnya penting buat pertumbuhan kita, akhirnya terabaikan juga, karena yang kita inginkan cuma ‘dicintai orang itu’. Kita jadi tidak belajar. Kita jadi berhenti latihan sesuatu hal yang penting buat kita, seperti biasanya.

Jadi, pergilah keluar, berolah-raga, menonton film, menelpon teman lama, tetap lakukan hal-hal yang normalnya kamu lakukan walaupun rasanya tidak enak (mencuci, bersih-bersih, belajar) ..karena semua aktivitas-aktivitas ini akan memberikan tenaga buatmu untuk melampaui kesedihanmu.

Yang terpenting, kita semua masing-masing adalah ‘berharga’. Jadi kenapa ‘ke-berharga-an’ kita harus tergantung oleh hadirnya orang lain? Kenapa kita masih tetap termakan oleh racun-racun itu, dan membuat diri kita berhenti tumbuh, hanya untuk seseorang yang jelas-jelas tidak menginginkan kita? Apalagi jika orang itu jelas-jelas tidak sesuai dengan bayangan dan imajinasi kita..Bergeraklah, penuhi dan fokuskan diri dengan aktivitas-aktivitas lain yang lebih penting.

4) Pandanglah Masa Depan Dalam Berbagai Bentuk Yang Mungkin

‘Badai pasti berlalu’. Kata sebuah lagu. Memang benar, apapun itu, semuanya pasti akan berlalu. Seorang anak kecil, pernah merasa ‘jatuh cinta’ dengan sebuah bus mainan berwarna merah. Bus itu akan dibawanya kemana-mana, dan ia merasa, memang sebenarnya ia dan bus itu diciptakan untuk bersama. Itu lah yang terpikirkan, saat itu.

Tapi setelah ia besar, ia toh tidak lagi bermain dengan bus merah itu. Memang ini cuma ilustrasi, tapi kenyataannya itulah yang terjadi pada kehidupan sehari-hari. Jika kita merasakan ‘sesuatu’, kita berpkir bahwa rasa itu akan selamanya begitu. Padahal sebenarnya tidak. Setelah beberapa waktu ‘rasa’ itu akan berlalu.

Coba kita tanya sama orang-orang tua yang sudah lama menikah. Ketika mereka masih sama-sama muda dan saling mencintai, bahkan sangat mencintai….apakah ‘rasa saling mencintai’ itu akan otomatis terus bertahan lama? Sebenarnya tidak. Jika tidak ada dari mereka usaha untuk terus menumbuhkan ‘rasa cinta’ itu, maka ‘rasa’ itu akan hilang.

Sebaliknya, ada juga pasangan yang awalnya tidak ada ‘rasa’, tapi karena terus-menerus membina ‘rasa’, lama-lama rasa itu akan muncul dan bisa bertahan terus, jika memang mereka ingin mempertahankan.

Intinya, ‘rasa cinta’ itu sebenarnya adalah rasa yang sementara. Ia bisa terus bertahan, karena ada usaha untuk mempertahankannya. Sakit hati, kesedihan, itu juga sementara…Mulailah melepaskan rasa sedih dan sakit hati itu..
pelan-pelan ia pasti akan berlalu juga…

Ini juga berlaku untuk hal-hal lain…ketika kita dirundung masalah, seberat apapun itu…selalu ingat..bahwa ini pun suatu saat pasti akan berlalu..badai pasti berlalu…

5) Keluar dari Kubangan

Ketika kita jatuh cinta pada bayangan kita akan seseorang, maka kita akan cenderung untuk tenggelam dalam kubangan khayalan romantisme, puisi patah hati, lagu-lagu mellow yang dipenuhi hati yang tersakiti. Berlebihan dalam hal ini sebenarnya malah akan mengarahkan kita pada masalah yang lebih jauh. Jika kita sudah merasa tersiksa karena keinginan kita yang tak berbalas (atau tak tercapai), maka terus berada dalam kubangan itu justru akan lebih memperparah rasa sakit kita.

Ada penelitian, jika kita galau, dan terus berada dalam kegalauan, akan mengarahkan kita pada kondisi ‘depresi’. Ketika kita depresi, maka aktivitas ‘prefrontal cortex’ pada otak sebelah kiri kita akan turun secara drastis. Artinya, kita jadi tak bisa berpikir secara logis.

Untuk mengatasi hal itu, masih menurut penelitian tersebut, jika kita tak bisa melepaskan fokus kita kepada seseorang..sehingga makan tidak enak, minum tidak enak, tidur tidak enak..maka lakukanlah hal-hal yang berhubungan dengan logika. Lakukan perencanaan. Lakukan analisa. Belajar bahasa. Menjawab TTS. Pokoknya yang berhubungan dengan merangsang aktivitas otak kiri, dan lakukan hal-hal yang menarik, ini akan membuatmu menstabilkan suasana hati, serta membuatmu lebih obyektif dalam memandang hal-hal yang mengganggu.

Intinya sebenarnya adalah, lepaskan fokusmu ke dia. “Don’t feed the monster” (Jangan ngasih makan ke monstermu). Kalau sudah tahu merasa sakit hati karena cintamu gak dibalas, ya jangan terus menemui dia, kirim sms ke dia, ataupun selalu mencari informasi tentang dia, misalnya dengan ngintip facebooknya, masuk ke tempat-tempat yang biasanya dia ada, dan lain-lain. Anehnya, ini biasanya sering kita lakukan, walaupun sudah tahu ia menolak, tapi rasa suka dan bayang-bayang tentang dia yang tak bisa lepas membuat segala sesuatu tentang dia adalah hal paling menarik buat kita. Percayalah, aktivitas ini tidak akan membuat kita lebih baik.

Katakan pada diri sendiri, “Kenapa aku menginginkan seseorang yang tidak menginginkanku?” Padahal kita berhak untuk orang yang lebih baik. Betapa sia-sia usaha dan waktu kita, jika hanya difokuskan pada sesuatu yang tidak mungkin bisa kita miliki?

Hati-hati dengan ini. Jika mendapati dirimu selalu merasa ingin ‘menempel’ kepada seseorang yang tidak mau denganmu, bahkan tidak mau memandangmu, bahkan yang telah sering menyakitimu, bisa jadi itu adalah patologi dari pengalaman masa kecilmu. Perjuangan untuk mendapat kasih sayang dan perhatian dari seseorang tersebut, adalah sebagai ganti perjuangan untuk mendapat perhatian dan kasih sayang yang dulu tidak kamu dapat dari kedua orang tuamu. Kamu seolah-olah ‘membutuhkan’ orang tersebut, sebagai prasyarat untuk kebahagiaanmu dan hidupmu. Jika kamu sering mendapati hal ini, dan itu tak bisa kamu hentikan serta terus menyiksamu, lebih baik segeralah berkonsultasi ke profesional.

Atau, mulailah untuk ‘lebih’ mencintai dirimu sendiri.
Sadarilah bahwa kamu lah satu-satunya orang yang berhak untuk mendapatkan cintamu.
BERHENTI sejenak, lihat dirimu sendiri, dan tenanglah. Jika kamu mendapati diri masih berusaha untuk memenuhi diri dengan orang lain, atau hal-hal lain dari luar diri sendiri, ketahuilah bahwa itu hanya akan membuatmu lebih buruk. Kebahagiaanmu adalah tanggung jawabmu, dan itu harus dari dirimu sendiri. Kebahagiaanmu bukan tanggung jawab orang lain dan bukan bersumber dari orang lain. Merasa tidak dicintai karena orang lain adalah gejala rendah diri, yang akan menurunkan kekuatanmu.

Ambil kekuatanmu kembali. Tetaplah untuk menumbuhkan hati dan jiwamu. Jadilah dirimu sendiri. Akan ada orang lain di sana yang akan menyukai dirimu yang autentik. Dirimu yang benar-benar dirimu. Dirimu yang bergerak karena memang kamu ingin bergerak, bukan atas dasar orang lain. Yang tumbuh karena kamu sendiri memang berhak dan menginginkan untuk tumbuh, bukan untuk orang lain.

Jika kamu mencintai dirimu sendiri, kamu tak butuh orang lain sebagai sumber kebahagiaanmu. Kamu akan merasa bebas, dan itu akan mengundang orang lain yang lebih baik di saat yang tepat nanti. Tetaplah berjalan dalam kedamaian dan kebahagiaan.

6) Ingat!! Cintamu Tak Berbalas Bukan Berarti Ada Yang Salah Denganmu!!

Kita cenderung bertanya-tanya, kenapa ia tidak mencintaiku? Kenapa ia tidak melihat kesungguhanku? Kenapa begini..kenapa begitu? Apakah ada yang salah denganku? Apa yang salah? Setidaknya kasih tahu alasannya kenapa?

Sudahlah..berhenti saja menanyakan hal tersebut. Faktanya, kalau kita sudah menjadi orang yang paling baik, paling lucu, paling cemerlang..bukan berarti ia harus menyukaimu. Ia tidak menyukaimu, ya karena ia tidak menyukaimu. Terkadang ada alasan yang sulit untuk dijelaskan kenapa seseorang suka sama orang lain atau tidak. Menyuruh orang lain untuk menyukai kita sama dengan menyuruh ombak untuk berhenti. Menyuruh orang lain untuk memberikan sesuatu yang ia tidak punya, adalah sesuatu yang sia-sia. Beberapa orang memang tidak bisa menyukaimu seperti kamu menyukainya, dan itu bukan berarti ada yang salah denganmu.

7) Temukan Seseorang Yang Bisa Memberimu Apa Yang Kamu Butuhkan

Mencintai dan dicintai – perasaan emosional yang simetris seperti itulah yang benar-benar dibutuhkan oleh kita. Beberapa orang terjatuh pada pola ‘destruktif’ untuk mengharapkan orang yang sudah ‘tak bisa diharapkan’, baik karena orang tersebut sudah punya pasangan lain, atau karena orang tersebut memang tak bisa/mau melakukan hubungan dengan kita. Secara tidak sadar, ketika kita mengharapkan orang yang tidak bisa kita harapkansebagai prasyarat untuk terjadinya cinta…itu akan seperti berenang di gurun yang kering, tidak akan berhasil! Setidaknya, sadar dulu tentang hal ini, bahwa ini adalah hal yang akan merusak diri sendiri.

Fokuslah terhadap seseorang yang menyukaimu sebagaimana adanya. Jangan menyamakan antara intesitas perjuangan dengan intesitas cinta sejati. Kamu akan mengetahui saat kamu menemukan cinta yang asli, yang memang patut kamu perjuangkan, karena cinta yang asli itu akan mengalir dalam dua arah (saling mencintai).

Cinta yang asli akan membuatmu bahagia dan senang, bukan menderita dan cemas. Cinta tak berbalas hanya akan menjadi penderitaan. Bayangkan betapa indahnya jika menemukan seseorang yang tahu bagaimana mencintaimu sebagaimana kamu mencintainya.

Ingatlah, berhentilah mencintai seseorang yang tidak mencintai kita, lalu MOVE-ON. Itu tidak hanya akan membuat diri kita lebih baik, tapi juga orang lain yang kita cintai tersebut juga akan lebih baik. Penelitian mengungkapkan, bahwa seseorang yang menolak cinta merasakan ‘penderitaan’ yang sama, bahkan lebih, daripada seseorang yang ditolak cintanya. Jadi jika kamu sudah ditolak cintamu, ya sudah, jangan terus mengharapkan dia. Karena itu akan menyiksa dia juga.

Nah, bagaimana jika kita berada di posisi yang harus ‘menolak cinta’? Tulisan tentang ‘Cinta Tak Berbalas’ ini akan saya lanjutkan di bagian kedua…
———————————————————————–

24
Feb
14

Menghilangkan Sakit Hati dan Mulai Memaafkan

(Tulisan di bawah ini adalah terjemahan secara bebas dari artikel “A Funny But Helpful Analogy For People Who Have Been Hurt Deeply By Another” dan “”The Law of Attraction Really Begins with the Law of Subtraction”. Kedua artikel tersebut ditulis oleh Karen Salmansohn)

~~~~~

Ketika seseorang telah menyakitimu – begitu dalam ke dalam jiwamu – pasti ada keinginan untuk menutup dan membuang – menyerah dan putus asa – untuk merasa pahit, perih, benci, depresi, dan lain-lain. Jiwa terasa mati.

Jiwa-yang-mati ini adalah suatu kecenderungan yang mengingatkanku akan film horor klasik yaitu “Zombie”. Tahu kan, zombie yang tanpa kesadaran, tanpa jiwa, berkeliaran ke sana kemari – berjalan terutama di dalam kegelapan – menggigit habis orang-orang yang bahagia dan berjiwa? Satu gigitan – lalu tiba-tiba orang yang tergigit ini akan menjadi bagian di dalam perilaku zombie. Mereka merasa jiwanya telah mati. Mereka begitu kecanduan akan kegelapan. Mereka ingin menggigit yang lain. Mirip sekali, jika kau terkena gigitan Zombie emosional, kau akan tergoda untuk bergabung dalam kumpulan Zombie – dan mematikan jiwamu – mencari pikiran-pikiran kegelapan – menggigit yang lainnya lagi. Disini, kau juga akan tergoda untuk menggigit zombie yang telah menggigitmu!

Pada dasarnya, ketika kau tergigit oleh seorang zombie, kau akan merasakan keinginan untuk menjadi seperti – zombie. Tapi, kau harus bertahan! Kau harus tetap kuat! Kau harus

Bagaimana caranya?

Pertama, kau harus menghadap ke cahaya – yaitu dimana cinta, pemaafan, kedamaian, iman, sukacita, dan pertumbuhan, dapat ditemukan. Semua cahaya ini akan menjaga jiwamu supaya tidak berubah menjadi zombie yang tanpa kesadaran dan jiwa. Perilaku mirip zombie tidak akan bertahan di dalam cahaya! Perilaku mirip zombie akan berjuang di dalam kegelapan – dengan jiwa yang mati – tapi dengan ego yang terpuaskan – ego yang memberikan pikiran-pikiran bahwa kita berhak untuk merasa pahit, benci, dan depresi.

Apa salah satu sumber terbesar dari cahaya yang membuat jiwamu tetap hidup? Itu adalah ‘Cinta diri’

Dan apa sumber terbesar dari mencintai diri sendiri? Itu adalah ‘Memaafkan/Pemaafan’.

Dan memaafkan/pemaafan ini dapat dimulai dengan memaafkan diri sendiri karena telah digigit oleh zombie yang tak berjiwa. Bagaimanapun juga, kita harus maklum karena sebagian besar zombie yang telah menggigitmu tidak tampak seperti zombie. Seperti di film horor, seringkali zombie yang tak berjiwa ini lewat di depan seperti orang normal yang masih mempunyai jiwa.

Selanjutnya, kau harus memaafkan zombie yang telah menggigitmu!

Ingat, memaafkan zombie akan melepaskan racun-racun zombie dalam sistem tubuhmu. Memaafkan zombie akan membantumu untuk menyelamatkan jiwamu dari kematian. Memaafkan zombie akan menjagamu untuk tidak mulai kecanduan terhadap pikiran-pikiran kegelapan yang konstan.

Ya, memaafkan akan melepaskan racun zombie dari sistem tubuhmu. Memaafkan benar-benar tindakan mencintai diri sendiri!

Bagaimana cara yang baik untuk memaafkan zombie mu?

Ingatkan pada diri sendiri bahwa zombie yang menggigitmu kemungkinan dia menjadi zombie adalah karena juga digigit oleh zombie yang lain. Dan zombie yang lain itu, digigit oleh zombie, dan zombie itu digigit oleh zombie, dan seterusnya.

Kasihanlah kepada zombie-zombie ini. Karena mereka telah berjalan di muka bumi ini dengan menyedihkan, hidup dengan tanpa jiwa – tidak pernah benar-benar merasakan jiwa yang menari dan bersinar oleh cahaya cinta, pemaafan, kedamaian, iman, suka cita, dan pertumbuhan!

Jika kau baru-baru ini digigit oleh zombie, ambil waktu sejenak untuk bersumpah pada diri sendiri, bahwa kau akan menyelematkan planet ini dari pengambil-alihan dunia oleh zombie-zombie, dengan memastikan bahwa kau sendiri setidaknya tidak akan menjadi zombie. Berikan lagi napas kehidupan pada jiwamu. Tunjukkan jiwamu kepada ‘cinta’ dan biarkan cahaya cinta, rasa memaafkan, kedamaian, iman, suka cita, serta pertumbuhan, ke dalam jiwamu!

~ ~ ~ ~ ~ ~ ~

kenapa memaafkan masa lalu adalah magnet cinta seksi yang berguna untuk menarik lebih banyak cinta dan kegembiraan ke dalam masa depanmu?

Apakah kamu pernah ke Meksiko? Selama beberapa tahun saya ke sana, saya selalu saja mengalami sakit. Setiap saya kembali ke sana, saya berjanji kepada diri sendiri bahwa saya akan lebih pintar. Saya tidak hanya akan menghindari air, tapi juga kubus es. Dan tidak makan daging merah. Sayang sekali, karena saya tetap saja sakit. Setelah beberapa waktu, saya tidak mau pergi ke Meksiko lagi.

Dalam buku saya “Prince Harming Syndrome”, saya menerangkan bagaimana pengalaman lari dari hubungan cinta dapat menjadi sama dengan pengalaman lari dari Meksiko. Jika kamu tetap merasa buruk selama beberapa saat, akhirnya kamu tak mau mencintai lagi. Tapi, kamu harus mempunyai cinta dalam hidupmu, supaya bahagia! Bagi manusia, ini adalah hal yang alamiah secara biologis, begitulah kata filsuf Aristoteles. Dia mengatakan bahwa cinta adalah “hal internal yang esensial” di atas kepentingan-kepentingan tertinggi lainnya, bersama dengan pemahaman dan pengetahuan. Manusia secara alamiah, menurut Aristoteles, mencintai dan dicintai!

Walaupun, kita akui, setelah peristiwa putus cinta yang menyakitkan, konsep cinta dapat menjadi hal alamiah yang ke 2.456.841..

Saya akui bahwa setelah saya melihat mantan saya (saya beri nama prince harming, pangeran yg menyakiti) melakukan kecurangan, itu sangat menyakiti saya, saya cenderung untuk menjaga diri saya terlindungi secara emosional. Tapi sukurlah, putus cinta itu akhirnya mengarahkan saya kepada teroboson besar. Saya menyadari bahwa saya tidak seharusnya belajar untuk: “Saya tak akan pernah jatuh cinta lagi”, saya seharusnya belajar bahwa: “Saya tidak sepenuhnya mengerti apa cinta sejati itu”.

Terima kasih kepada mantan saya ini, saya memperoleh pemahaman lebih terhadap cinta, yang mengarahkan saya kepada tunangan saya, prince charming (saya beri nama Prince Charming, pangeran yang menarik) saya. Baru-baru ini, saya melihat kembali kepada mantan saya dengan penuh syukur. Sangat bersyukur, sehingga saya memberinya nama panggilan “guruku”. Bahkan saya telah mengganti namanya di telpon genggam dengan nama “guru”.

Pada titik ini, saya diyakinkah bahwa hampir semua pelajaran dalam hidup ini adalah pelajaran tentang cinta. Sebuah pelajaran yang besar yaitu: belajar mengirimkan pikiran-pikiran cinta kepada mantan, walaupun jika ia telah menyakitimu. Kamu harus dengan penuh kasih mengerti ia melakukan itu sebagai pertanda bahwa ia tak mempunyai kemampuan untuk mencintai dengan benar, karena hal tersebut terjadi pada kesadaran yang lebih rendah. Selanjutnya, kamu harus berdoa untuk mantan itu supaya mendapatkan pemahaman sehingga ia akan tumbuh dalam potensinya yang terbesar.

Ya! Jika anda ingin mendapat cinta yang lebih baik, sangatlah penting bagi anda untuk belajar cinta dengan pemaafan yg penuh kasih. Setelah hal itu bisa anda lakukan, sangatlah mudah mengirim pikiran-pikiran cinta kepada seseorang yang mencintaimu. Dan jika anda ingin terus ke arah hubungan cinta yang sehat, anda harus melepaskan emosi-emosi negatif masa lalu – semua vibrasi energi yang diciptakan oleh kemarahan, sakit hati, dan ketakutan. Anda harus melakukan ini demi beberapa alasan.

Mari saya mulai terangkan dengan membagi sebuah cerita tentang “Ular dan Kesalahan”. Suatu hari, ada seorang perempuan yang berkelana di sebuah gurun, dan digigit oleh ular berbisa. Ia Marah. Yang dapat dipikirkannya hanyalah marah, karena ular berbisa yang menggigitnya, dan ia juga marah kepada diri sendiri karena telah berkelana di gurun. Ia tak bisa tenang, tak bisa memaafkan ular, tak bisa memaafkan dirinya sendiri, lalu tak bisa melihat bahwa ia dapat memecahkan masalah-masalahnya tersebut untuk menyelamatkan hidupnya. Padahal caranya sederhan, hanya dengan menghisap racun itu dari lengannya, seperti yang pernah dipelajarinya bertahun-tahun sebelumnya… Ia pun tewas…Pelajaran yang bisa diambil? Memaafkan adalah obat mujarab untuk sesuatu yang menyakitimu.

Ini lucu. Kita sering merasionalisasi kemarahan kita sebagai dorongan untuk mencapai hasil yang lebih baik. Padahal sering kali kemarahan malah menahan kita dari kemurnian mental yang penuh.

Aristoteles mengatakan hal ini dengan baik: “Kita mudah sekali tertipu oleh persepsi ketika kita dalam kondisi emosional…sehingga bahkan hal yang kecil dapat dianggap sebagai musuh…dan makin emosi kita, makin kecil hal yang diperlukan untuk menghasilkan efek tertipu ini.

Pada dasarnya, Letak untuk melepaskan kemarahan sehingga kamu dapat melihat dunia dengan lebih jelas adalah di dalam kondisi mental terbaikmu. Kemarahan tidak hanya tidak sehat untuk keadaan mental, namun juga untuk tubuh, menciptakan penyakit jantung koroner dan tekanan darah tinggi. Peneliti-peneliti pada Universitas Ohio telah melaporkan bahwa orang-orang pemarah lebih lama sembuh dari luka (luka fisik).

Kemarahan juga telah menjadi akar dari banyak kecanduan, berkisar dari kecanduan obat-obatan, alkohol, makanan dan belanja. Pencandu-pecandu melakukan hal-hal buruk itu untuk mencegah rasa luka akibat rasa sakit hati masa lalu. Kemarahan mereka menjadi bumerang, membalik untuk memukul diri mereka sendiri dengan kecanduan.

Studi baru-baru ini di Universitas Wisconsin menunjukkan perbandingan “terapi memaafkan” versus terapi obat-obatan/alkohol. Ditunjukkan bahwa “Terapi Memaafkan” ternyata lebih mampu meringankan kemarahan yang ada di balik subtansi dari tindakan kesewenang-wenangan, dibandingkan dengan terapi obat-obatan/alkohol. Tidak hanya subjek-subjek penelitian menunjukkan hasil yang lebih cepat, namun juga mengurangi tindakan kejahatan.

Pada dasarnya, seperti halnya daya tarik seksual (orang dapat merasakan tapi tidak dapat melihat), ada pula daya tolak energi kemarahan (orang dapat merasakan tapi tak dapat melihatnya). Jika kamu berpikir tentang pikiran-pikiran kemarahan, kamu akan benar-benar memancarkan gelombang kemarahan yang secara intuitif akan dirasakan oleh orang lain, sama dengan kamu memancarkan anti-karisma.

Banyak fisikawan kuantum percaya bahwa gelombang marah dapat dirasakan dalam medan energi universal yang lebih luas, sehingga menarik keadaan-keadaan negatif. Seorang ahli fisika kuantum, Lynne McTaggert, menulis tentang studi yang ia saksikan, dimana seorang yang bahagia mengirimkan pikiran-pikiran cinta energetik kepada orang yang marah, yang kemudian dapat menenangkan temperamen orang yang marah tersebut.

10 teknik “Terapi Memaafkan”:

Hukum Daya Tarik (Law of Attraction) dimulai dengan Hukum Pengurangan (Law of Subtraction), Artinya? Jika kamu ingin menemukan cinta yang sehat, pertama kamu harus mau melepaskan sakit akibat masa lalu. Voila!

1. Katakan pada diri sendiri: “Aku tak dapat mengontrol apa yang terjadi diluar. Tapi aku dapat mengontrol apa yang terjadi di dalam. Aku memaafkan mantanku, dan aku memutuskan untuk mendapatkan pandangan-pandangan tentang bagaimana secara bijaksana menghindari situasi cinta seperti ini di kemudian hari.” Tentukan untuk membuat perpisahan ini sebagai petunjuk untuk terobosanmu.

Atau seperti yang suka saya katakan: “Terkadang kita mesti mencapai “Jan**k” untuk mendapat “Pasca Jan**k”, yaitu waktu yang menyemangati ketika kita menentukan untuk memutuskan pola-pola rasa sakit ini.

2. Tulis ulang nama mantanmu di hp dengan “guru”. Percayalah, kamu akan merasa lebih baik segera.

3. Tulis surat terima kasih kepadan mantanmu untuk semua yang telah kamu pelajari. Jangan dikirim. Simpan aja dekat2 untuk dibaca setiap saat kamu merasa tersandung untuk kembali pada pikiran-pikiran marah.

4. Katakan pada diri sendiri: ” Kami semua orang baik, jiwa2 mencintai yang terkadang tersesat.

5. Ingatkan pada diri sendiri saat diri kita dimaafkan. Jadilah orang yang pemurah. Maafkan mantanmu.

6. Ingatkan dirimu, jika kamu benci seseorang berarti kamu telah berikan kontrol kepada mereka untuk mengendalikan emosimu. Kamu tak mau memberikan hal itu kepada mantanmu kan?

7. Ingatkan dirimu, ketika kamu merespon benci dengan benci, kemarahan dengan kemarahan, kepahitan dengan kepahitan, ironinya kamu akan menjadi bagian dari masalah.

8. Jika kamu merasa stress tentang segala hal mengenai mantanmu, level suplemen “SAM-e” (sebuah zat di dalam tubuh) yang secara alami memproduksi molekul dalam tubuhmu akan menghilang karena stres, umur, dan diet.

9. Ingatkan dirimu bahwa ketika kamu melatih otakmu untuk memikirkan pikiran-pikiran mencintai, energi positifmu akan menarik lebih banyak orang-orang dan hasil-hasil positif. Plus, menjadi damai membuatmu lebih seksi, sehingga akan lebih banyak magnet cinta daripada magnet negatif.)

10. Ingat: Sukses dalam kehidupan cinta adalah balas dendam yang terbaik)

(*Diterjemahkan oleh Lou Dewanenonli dari artikel yang diadaptasi dari buku “Prince Harming Syndrome” karangan Karen Salmahnson)

21
Jan
13

Anda Mengasuh Anak Anda seperti Orang Tua Anda?

Apakah anda pernah mengalami kejadian dimana kata-kata keluar dari mulut anda, dan itu kedengarannya bukan seperti anda? Misalnya ketika anda membentak pasangan anda atau memarahi anak anda, anda menggnakan kata-kata yang tidak pernah anda ucapkan, atau anda menggunakan ancaman-ancaman yang tidak pernah anda temui sebelumnya. Setelah itu anda merasa bingung selama beberapa saat, dan bertanya-tanya, “Dari mana asal semua itu?”, kemudian anda terhenyak – anda terdengar seperti ibu atau ayah anda!

Untuk hal yang lebih baik atau lebih buruk, banyak sifat-sifat dari orang tua kita tinggal pada diri kita. Identifikasi positif terhadap hal-hal yang kita sukai pada orang tua kita, akan menolong kita untuk mengambil karakteristik yang kita hormati dan kagumi tersebut. Sayangnya, di sisi lain, sifat-sifat negatif dari orang tua kita, terutama yang menyebabkan kita sengsara, takut, dan frustasi, juga dapat berlama-lama tinggal di jiwa kita, dan mempengaruhi tingkah laku kita. Ini terutama terjadi saat kita stress, yang bagaimana-pun telah mengingatkan akan masa lalu kita serta mencoba untuk menonaktifkan pemicu lama dalam diri kita.

Seperti yang mungkin anda bayangkan, skenario-skenario yang mengingatkan masa kecil kita akan cenderung lebih meningkat ketika kita sendiri menjadi orang tua. Mungkin kita tidak terlalu ingat bagaimana ayah kita kita biasa membentak ke pengendara mobil lain saat menyetir, sampai anak kita sendiri mulai bertengkar di tempat duduk belakang. Mungkin kita tidak ingat bagaimana ibu kita merayu kita ketika kita menangis, sampai kita mendapati diri sendiri membuat komen sarkastik kepada anak kita saat anak kita tersebut rewel.

Berita baiknya adalah: dengan memperhatikan sifat-sifat ini dalam diri kita sendiri, lalu mengidentifikasi dari mana asal sifat-sifat itu, kemudian mengubah perilaku kita supaya cocok dengan standar atau prinsip-prinsip kita, maka kita dapat menjauhkan diri (melakukan “differentiation”) dari pemograman negatif di masa lalu tersebut. Kita dapat menjadi lebih seperti seorang tua yang kita inginkan, bukannya orang tua yang telah membesarkan kita.

Ada beberapa langkah-langkah penting pada proses “differentiation”.

Pertama, anda harus menjadi pengamat terhadap reaksi anda sendiri. Anda mesti mencoba menyadari interaksi antara anda dan anak-anak anda yang tampaknya keluar dari karakter anda, atau yang tidak merepresentasikan hal-hal yang anda inginkan. Apakah tingkah laku atau situasi tertentu memicu anda? Misalnya, apakah membantu anak anda mengerjakan PR menimbulkan frustasi dan kekesalan? Apakah rewelnya anak anda membuat anda kehilangan kontrol emosi? Pikirkan tentang kejadian dan skenario yang membawa anda pada interaksi negatif antara anda dan anak anda. Adakah pola?

Langkah kedua, termasuk menanyakan kepada diri sendiri pertanyaan ini, “Mungkinkah saya telah memproyeksikan karakteristik-karakteristik atau dinamika-dinamika dari masa kecil saya? Mungkinkah saya telah menghidupkan kembali atau melakukan kembali aspek-aspek dari masa kanak-kanak saya dengan anak-anak saya sekarang?” Mengetahui hal ini berarti menjadi sadar terhadap bagaimana kita diasuh oleh orang tua kita. Apakah orang tua anda tidak sabar dengan anda saat mereka membantu anda mengerjakan PR? Apakah mereka terlalu menekan, terlalu merasa puas sehingga tidak menyadari ada hal yang tidak baik, atau tidak mendukung? Apakah orang tua anda pernah kehilangan kendali, ketika anda sedang mengalami
kemarahan?

Selagi anda mulai untuk mengenang masa kecil anda, anda mungkin mulai melihat keuntungannya membuat suatu narasi tentang masa lalu anda. Bercerita, bahkan kepada diri sendiri, dapat menolong anda memahami tindakan-tindakan anda di saat sekarang, dan secara sadar menuntun anda untuk bertindak di masa depan.

Berefleksi dan menyusun cerita anda sendiri dapat menyakitkan. Kenangan-kenangan sedih bisa muncul lagi. Kenyataan bahwa orang tua kita hanyalah manusia yang tidak sempurna, dapat terasa berat untuk diterima. Kita mempunyai kecenderungan alami untuk melindungi orang tua kita. Kita bahkan secara tidak sadar ‘mengidentifikasi’ sikap kritis mereka terhadap kita dan sering menganggap pandangan meremehkan mereka terhadap kita sebagai pandangan diri kita sendiri. Orang tua yang menginternalisasi ke dalam diri kita ini adalah apa yang dinamakan ‘critical inner voice’. Kita merasa sangat terancam untuk terpisah dengan orang-orang yang pernah kita andalkan demi mendapat pengasuhan dan keamanan. Namun, dengan mempunyai rasa kasih sayang kepada diri kita saat anak-anak, kita dapat memperlebar perasaan ini kepada anak-anak kita sendiri. Kita dapat memisahkan diri dari sikap-sikap dan sifat-sifat orang tua kita yang tidak kita inginkan
, sambil tetap menjaga hal-hal yang kita kagumi dari mereka.

Sekali kita membuat hubungan antara kejadian lalu dan tingkah laku sekarang, dan sekali kita mempunyai perasaan terhadap diri sendiri dan usaha-usah yang kita pertahankan, maka kita menjadi lebih kuat untuk menantang sikap-sikap negatif kita sebagai orang tua. Kita dapat mempertanyakan sikap dan tingkah laku kritis atau pengabaian kita terhadap anak-anak kita yang mungkin tidak cocok dengan situasi. Kita dapat mengenali, bahwa seperti juga kita bukan orang tua kita, anak-anak kita pun bukanlah diri kita.
Sehingga kita dapat menjadi lebih
terbiasa mengatasi masalah-masalah pada anak-anak kita. Kita dapat mulai terpisah dari orang tua yang tidak kita inginkan dan menjadi orang yang bisa ditiru anak-anak kita.

(Judul Asli: Are You Parenting Like Your Parent? For better or worse, many of our parents’ traits live on in us – Diterjemahkan dari artikel Lisa Firestone, Ph. D. di Psychologytoday.com, yang di terbitkan pada November 29, 2012)

21
Agu
12

Dalam Krisis? Biarkan Kata-katamu Menciptakan Duniamu

(Diterjemahkan dan disingkat dari artikel Karen Salmansohn yang berjudul “In a Crisis? Let Your Words Create Your World”, yang ada di Oprah.com)

Para psikolog mengatakan, sebuah trauma yang terjadi akan menyerangmu lagi untuk kedua kali. Pertama, Kamu mengalami realitas tersebut – menghadapi kenyataan itu. Kedua, ketika kamu berpikir atau berbicara tentang hal tersebut kepada orang lain, berarti kamu telah menciptakan kembali kejadian tersebut dalam pikiran. Meskipun tidak ada yang dapat kamu lakukan tentang apa yang telah terjadi padamu, penting untuk tetap memperhatikan bagaimana kamu menggambarkan trauma untuk diri sendiri dan orang lain – Ingat, kata-katamu menciptakan duniamu!

Boris Cyrulnik, sebuah etolog Perancis terkenal, mengatakan ada alasan yang baik untuk memperhatikan apa yang kamu katakan. Kebanyakan perempuan yang bekerja dengan Boris, dan yang pernah mengalami trauma seksual, mengatakan bahwa bukan kasih sayang yang menginspirasi mereka untuk pulih, tetapi lebih karena pengaruh orang-orang disekitarnya yang memberitahu bersikap kuat. Cukup diberitahu bahwa mereka kuat akan membantu mereka untuk menjadi seperti itu. Cyrulnik berpendapat bahwa jika orang lain mengungkapkan rasa kasihan atau horor terlalu banyak kepadamu , pandangan mereka benar-benar dapat meningkatkan rasa sakitmu.

Apa cara yang paling mudah, juga paling kuat, untuk bangkit kembali dari keterpurukan? Ingatlah mantra ini, “Saya harus memperhatikan kata-kata yang saya gunakan – karena kata-kata tersebut menciptakan dunia yang saya lihat!”

Neuro-linguistik Programming (NLP) adalah terapi yang mencoba untuk mempengaruhi pikiran bawah sadar dan mempengaruhi perubahan yang positif dengan sadar menggunakan kata-kata positif untuk kembali fokus pada hal-hal yg bisa dikendalikan. Misalnya, Cyrulnik memperingatkan bahwa setelah trauma, kita perlu memastikan bahwa kita tidak berbicara dengan orang-orang yang sengaja membuat kita dalam modus korban, yang menggunakan bahasa depresi-inducing semisal:
– Anda pasti sangat menderita sekarang!
– Betapa sangat terluka dan sakitnya Anda!
– Aku yakin kau lelah dan tertekan setelah semua yang kau lalui!

Tidak, tidak, tidak! Kau harus menjauhkan diri dari kata-kata seperti itu! Memang pada permukaan mereka tampak baik dan empati, tapi mereka akan lebih membuatmu mengalami krisis serta berada dalam mood yang buruk. Selama masa-masa sulit, Kau harus dikelilingi dengan orang-orang yang menyanyikan, “Kamu kuat! Anda kuat! Kamu kuat” yang menciptakan lingkaran dukungan tak berujung!

Morrie dan Arleah Shectman, psikoterapis yang mengkhususkan diri dalam konseling dukacita, paham betul dengan kekuatan subliminal kata-kata. Mereka sengaja menggunakan bahasa memberdayakan ketika membantu orang melalui trauma. Morrie mengatakan dia tidak pernah berbicara “dengan simpati” terhadap pasien, karena itu melemahkan dan membuat pasien dimanjakan dalam mode korban. “‘Pembicaraan yang penuh dengan simpati’ dapat membuat pasien terjebak, menghidupkan kembali perasaan sedih mereka daripada melaluinya,” kata Morrie.

NLP adalah sebuah fenomena yang cukup menakjubkan. Pada tahun 2000, peneliti John Bargh melakukan studi yang sekarang terkenal, yang menunjukkan bagaimana konteks linguistik kita sangat mempengaruhi perilaku kita. Bargh memberikan pada dua kelompok orang yang berbeda dua daftar berbeda berupa kata-kata untuk disusun, dan memberitahu mereka, bahwa mereka sedang diuji untuk memecahkan masalah sederhana.

Daftar pertama berisi kata-kata yang menunjukkan ketidaksabaran, kekasaran dan agresivitas, daftar kedua merupakan kata-kata yang menunjukkan kesabaran, kesopanan dan ketenangan. Setelah tes selesai, para peserta diminta untuk membawa daftar tersebut ke seorang administrator yang asyik mengobrol dengan seorang rekan – ini dalam rangka menyiapkan sebuah percobaan yang sebenarnya.

Semua peserta yang diberi daftar kata-kata yang menunjukkan kekasaran dan agresivitas, menjadi seperti yang digambarkan dalam kata-kata di daftar tersebut – dengan marah mengganggu administrator. Namun, peserta dengan bahasa yang menyarankan kesabaran dan ketenangan, 82 persen dari mereka tidak mengganggu administrator sama sekali. Pelajaran yang bisa dipetik? Kata-kata yang kita gunakan dan kita dengar sangatlah kuat mempengaruhi!

Jika kau sedang dalam keadaan yang sangat sulit, sangat penting untuk menjadi sadar dan tidak berkutat pada rasa sakit. Sebaliknya, secara sadar bumbuilah percakapanmu, baik dalam sesi terapi atau dalam penulisan jurnal, dengan kata-kata yang menggambarkan kekuatan, semangat, kata-kata optimis, sehingga akan membuatmu ditujukan ke arah yang kuat, positif, penyembuhan!

“Setelah kau melalui trauma atau kerugian besar, asumsikan bahwa orang tidak akan menjadi pendengar yang baik,” kata Dr Al Siebert, penulis The Advantage Resiliency. Menurut Siebert, rata-rata orang akan mendengarkanmu berbicara tentang kesulitanmu selama satu sampai dua menit, sebelum akhirnya mereka ingin pergi, atau mengganggu mu dengan pendapat mereka. Hal ini dapat benar-benar menyakitkan dan menimbulkan stres emosional ketika kau sedang merasa rapuh.

Siebert menyarankan untuk melindungi semangat dengan menciptakan beberapa batasan dan “elevator pitch” dari cerita, berupa jawaban cepat satu menit. Dengan pemikiran ini, sangat membantu untuk menggunakan beberapa waktu untuk secara sadar menuliskan elevator pitch apa yang kau ingikan untuk disertakan, sehingga kau siap ketika orang bertanya. Cobalah untuk menggunakan bahasa yang netral atau positif sehingga kau tidak terus mengenang rasa sakitmu. Pastikan untuk menempatkan “kicker” positif di akhir. Misalnya: “Ya, saya sudah melalui hal yang mengerikan, tapi aku baik-baik saja menanganinya. Bagaimana denganmu? Pernahkah kau melalui hal seperti ini?” Mengharapkan empati akan mengecilkan kemungkinan bahwa respon pendengarmu akan menyakiti atau mengecewakanmu.

Jika kau merasa sedang berada dengan orang-orang yang sangat mendukung – teman yang mana anda ingin lebih bebas berbagi pengalaman – pastikan untuk memeriksa mereka terlebih dahulu, dengan mengatakan sesuatu seperti: “Saya harus mengakui apa yang telah kulalui adalah pengalaman yang sangat emosional . Jika kau memiliki satu jam, saya ingin berbagi denganmu” Dengan cara itu kamu menjaga diri terhadap kekecewaan karena tidak mampu untuk berbagi sesuai dengan yang kau harapkan..

Siebert juga mengingatkan bahwa tidak apa-apa untuk memutuskan untuk tidak berbagi. Kau dapat memberitahu orang-orang, “Terima kasih untuk bertanya, tapi saya tidak ingin untuk membicarakannya sekarang.”

Teknik lain adalah NLP membantu untuk mencairkan kata-kata yang sangat negatif. Cobalah untuk berhenti mengatakan hal-hal seperti:

Aku marah!
Aku hancur!
Aku benar-benar hancur.

Alih-alih menggantinya dengan ekspresi ringan seperti:

Saya sedikit jengkel.
Saya kecewa.
Aku heran.

Sadarilah bahwa kata-kata Anda juga memiliki kekuatan di bidang lain kehidupan Anda. Misalnya, alih-alih mengatakan, “Saya tidak akan terlibat dengan brengsek yang curang, atau sosiopat, atau orang beracun!” Kamu perlu berkata, “Saya hanya akan terlibat dengan orang-orang yang sehat, penuh kasih, dan orang dapat dipercaya.” Daripada mengatakan, ” Saya tidak lagi akan terlilit dalam utang!” kau mungkin bisa berkata,” Saya bersumpah untuk menjadi pelarut finansial. ”

Saya juga seorang yang sangat percaya bahwa apa yang yang kau pikir tentang dirimu sendiri adalah benar-benar memanifestasikan siapa dirimu. Keyakinanmu akan menciptakan tindakan dan kebiasaan yang kamu pilih. Selama mengalamai masa yang sulit, sangat penting untuk melihat diri sendiri sebagai orang yang kuat – mampu memantul kembali lebih kuat daripada sebelumnya! Dengan pemikiran ini, saya sarankan selama masa-masa sulit, Anda memasukkan apa yang saya sebut “Identity Protection Program!” Milikilah salah satu dari identitas berikut sebagai milik Anda:

– Aku tipe orang yang membuat dunia mengatakan ya kepada saya.
– Saya adalah seorang dengan semangat gigih, phoenix yang bangkit dari abu. Tidak ada yang membuat saya jatuh!
– Orang yang lebih rendah akan hancur sekarang. Tidak moi!
– Ketika hidup melempariku dengan curveball, aku memukul mereka keluar dari taman!

Jika kau berada dalam waktu yang sulit, ingatlah untuk mengulang jenis keyakinan sesering mungkin, bahkan jika pada awalnya kau tidak percaya terhadap hal tersebut. Seperti Muhammad Ali pernah berkata: “Ini adalah pengulangan/afirmasi yang membuat kita yakin. Dan sekali hal tersebut menjadi keyakinan yang mendalam, banyak hal-hal mulai terjadi “Atau seperti yang saya ingin katakan, “Kadang-kadang kita harus membuat “positif palsu” sampai akhirnya kita berhasil dalam keadaan positif yang sebenarnya” (‚ÄúSometimes you gotta fake positivity till you make positivity‚ÄĚ).

23
Nov
11

Trauma Karena Kehilangan Orang Yang Kita Cintai

Bila kita membaca tulisan Robert D. Stolorow, Ph. D, yang berjudul “Trauma and The Hourglass of Time – Trauma disrupts our ordinary experience of Time”, kita akan mengetahui bahwa trauma (dalam tulisan tersebut terutama trauma yang menyangkut kematian seseorang) sebenarnya tidak bisa dihilangkan dari kehidupan. Ketika kita kehilangan seseorang yang sangat kita sayangi, maka rasa kehilangan itu akan terus dan terus datang ke dalam diri kita. Waktu tidak akan menyembuhkan luka trauma. Kata-kata “Anda harus membiarkannya pergi dan teruslah melangkah” tak akan bisa berhasil menyembuhkan luka. Dengan kata lain, trauma adalah abadi, dan karena trauma itu mendalam, maka akan mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari. Luka akibat trauma akan terus dibawa dan dialami oleh seseorang. Walaupun di suatu waktu kita dapat melupakan rasa trauma, tapi itu hanya akan terjadi sementara, di waktu yang lain luka itu akan terasa lagi.

Lalu bagaimana cara untuk membantu orang yang mempunyai trauma? Yaitu dengan cara membuatnya tidak merasa sendiri. Rasa luka yang mendalam dan kegelapan akibat trauma dapat ditahan dan ditanggung, tidak dalam kesendirian secara emosional. Dibutuhkan orang-orang lain yang mau untuk sama-sama merasakan rasa sakit emosional tersebut, dengan penuh pemahaman, sehingga luka tersebut tidak ditanggung secara sendirian. Agaknya tepat bahwa kita akan menjadi lebih kuat jika bersama dengan orang lain. Jadi, jangan biarkan orang yang trauma merasa sendiri..

07
Sep
11

Cara Menghadapi Orang Yang Narsisis

Diterjemahkan dan disingkat secara bebas dari tulisan Judith Orloff, MD (dari artikelnya di Psychologytoday.com , yang diambil dari bukunya berjudul “Emotional Freedom”)

Bagaimana mengenali Narsisis:
Motto mereka adalah “Aku dulu”. Segala hal adalah tentang mereka. Mereka mempunyai perasaan yang berlebihan terhadap kepentingan pribadi mereka dan hak mereka, lalu mereka juga mendambakan kekaguman dan perhatian.
Mereka akan memojokkanmu dalam sebuah pesta, menceritakan tentang riwayat ‘besar’ mereka.

Beberapa narsis tidak disukai, sangat kelihatan egois. Namun beberapa yang lain dapat menawan, cerdas, peduli – kecuali jika status mereka terancam. Jika anda berhenti menaikkan ego mereka, atau tidak setuju dengan mereka, mereka akan beralih ke anda dan menghukum anda.

Orang-orang narsisis bisa sangat berbahaya, karena mereka kurang mempunyai empati, mempunyai kapasitas terbatas terhadap cinta tanpa syarat. Hati mereka tidak berkembang, bahkan mungkin telah mati, akibat trauma fisik di masa lalu, seperti dibesarkan oleh orang tua yang narsisis, sehingga mereka mengalami cacat yang melumpuhkan secara emosional maupun spiritual.

Karena sulit untuk memahami, orang-orang Narsisis ini kurang memamhami tindakan mereka sendiri, apalagi untuk menyesalinya. Walaupun mempunyai intuisi, seringkali intuisi itu digunakan mereka untuk kepentingan pribadi mereka sendiri dan untuk memanipulasi. Seperti pepatah Hassidic yang mengatakan “tidak ada ruang buat Tuhan bagi dirinya, karena dirinya telah penuh oleh dirinya sendiri.”

Untuk mengetahui tanda-tanda dari orang yang narsisis, tanyakan pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
* Apakah mereka bertindak seolah-olah hidup berputar di sekelilingnya?
* Apakah saya harus memujinya untuk mendapatkan perhatiannya atau persetujuan?
* Apakah dia selalu mengarahkan pembicaraan kembali ke dirinya sendiri?
* Apakah ia mengecilkan perasaan saya atau kepentingan saya?
* Jika saya tidak setuju, apakah ia menjadi dingin atau menahan?

Jika jawaban anda YA untuk satu atau dua pertanyaan, maka anda tampaknya berhadapan dengan seorang narsisis. Jika jawaban 3 pertanyaan menghasilkan jawaban YA, maka narsisis telah menjajah Kebebasan Emosional anda.

Untuk berhadapan dengan orang narsisis sangatlah sulit (seperti kacang yang sulit retak).
Yang terbaik yang dapat dilakukan terhadap mereka adalah menyeleraskan aspek-aspek positif mereka, dan fokus terhadap tindakan-tindakan mereka yang mereka anggap tidak berhasil. Bahkan jika seseorang ingin berubah, kemajuannya pun akan terbatas, keuntungannya juga sedikit.

Saran profesional: jangan jatuh cinta sama seorang narsisis, atau berilusi dengan mengatakan mereka akan mampu memahami prinsip ‘memberi dan menerima’ dalam suatu hubungan intim. Berhubungan dengan narsisis akan membuat anda kesepian secara emosional. Jika anda mempunyai pasangan yang narsisis, hati-hati jika mengharapkan rasa pengasuhan yang tidak pernah didapatkan dari orang tua anda sendiri, karena itu tak akan terjadi. Juga, jangan berharap kepekaan anda akan dihormati.

Jika seorang narsisis menguras emosi anda, ini lah yang harus dilakukan untuk mendapatkan kekuatan anda lagi:
Rendahkan harapan anda, dan bikin strategi untuk memenuhi kebutuhan anda.
* Jaga harapan anda tetap realistis.
Nikmati kualitas positif dari mereka, tapi mengertilah bahwa emosi mereka terbatas. Bahkan jika mereka sangat ahli di suatu bidang. Dengan menerima hal ini, anda tidak akan meminta dari teman, keluarga, atau rekan kerja, sesuatu yang tidak dapat mereka berikan. Camkan definisi kegilaan ini: ketika anda mengulangi tindakan yang sama, tapi mengharapkan respon yang berbeda.
*Jangan membuat diri anda tergantung kepada mereka.
Jangan terperangkap untuk menyenangkan seorang narsisis. Lindungi sensitivitas anda. Tahan diri anda untuk tidak menceritakan perasaan terdalam anda pada seseorang yang tidak akan menghargai anda.
*Tunjukkan sesuatu yang akan menjadi keuntungan mereka.
Untuk berkomunikasi secara sukses dengan seorang narsisis, ingat ini. Menyatakan apa yang anda butuhkan jelas tak akan berhasil, apalagi jika anda marah atau menuntut. Lebih baik bicaralah sesuatu yang berarti bagi mereka. Misalnya, daripada mengatakan ini kepada pasangan: “saya sangat menikmati makan malam keluarga”, lebih baik mengatakan “semua orang menyukai kamu, mereka akan senang jika kamu hadir dalam makan malam kelurga”. Atau, daripada mengatakan ini kepada majikan anda, “Saya lebih suka bekerja tidak sampai malam”, lebih baik berkata “Saya dapat memberikan lebih banyak hasil jika bekerja pada jam-jam ini”.

Memang, lebih baik tidak berurusan dengan seorang narsisis yang membosankan, namun jika hal itu tak dapat dihindari, gunakan teknik ini untuk mendapatkan hasil yang baik.