Archive Page 2

03
Sep
11

Kami Orang Pendiam

Coba amati orang-orang di sekitar kita. Coba amati teman kita, saudara kita, dan coba amati diri kita sendiri. Adakah ditemui orang yang jika di suatu tempat ia mempunyai sikap perilaku tertentu, lalu di tempat yang lain ia bersikap dan berperilaku berbeda, seperti bukan dirinya yang sebelumnya. Ketika ia berkumpul dengan orang-orang dari grup yang satu, ia bersikap sangat pendiam, tapi ketika ia berkumpul dengan grup yang lain, ia sama sekali tidak pendiam. Malah sangat dominan. Ini terjadi pada saya. Ya, saya sendiri. Salah seorang teman saya melihat itu. Teman saya itu adalah teman di suatu perkumpulan. Kemudian ia bergabung di perkumpulan lain, yang sebelumnya saya sudah bergabung di situ. Teman saya kaget, yang tadinya di perkumpulan saya pendiam, kenapa di perkumpulan yang ini saya tidak pendiam lagi, berbeda seratus delapan puluh derajat. He he…ehm..apakah semua orang seperti itu? Atau hanya saya saja? Atau ada beberapa orang saja – tidak semua orang – yang seperti itu?

Setelah baca buku ‘Pengantar Psikologi’ oleh Atkinson, Atkinson, Smith, dan Bem, ternyata dituliskan di situ bahwa perilaku memang mungkin berbeda-beda dari situasi satu ke situasi lain. Individu mungkin menarik diri dalam sebagian situasi, tapi terbuka pada situasi yang lain. Karena alasan ini lah, penilaian trait dari kepribadian tidak bisa memprediksi perilaku dalam situasi yang berbeda. (trait adalah sifat, yang membedakan individu dengan individu lainnya. Trait misalnya tenang, tegar, percaya diri, pendiam, tidak senang berpetualang, mudah marah, kejam, ceroboh, dan lain-lain)

Saya melihat ada teman saya persis seperti saya. Tapi saya juga melihat ada teman akrab saya yang konsisten, ia sanguin (ceria, lucu, rame), dan di semua perkumpulan, di semua tempat, dia selalu sanguin. Jadi ada orang yang berubah-ubah sifat dan perilakunya. Tapi ada yang hampir konsisten perilakunya.

Bagaimana cara membuat orang seperti saya (yang pendiam ini, he he he) berubah perilakunya? Dari yang tadinya menarik diri, jadi tidak menarik diri lagi, dan bahkan mendominasi?

Caranya, seringlah bersenang-senang bersama-samanya! Yak..dengan sering bersenang-senang bersama, suasana akan cair, tidak akan ada lagi kekhawatiran, tidak perlu menarik diri. Bersenang-senang yang bagaimana? Seperti maen game, bercanda, berkaraoke, bermain permainan outbound, main bersama di ancol, dufan, naik wahana-wahana permainan, foto geje bersama, dan lain sebagainya.

Ini terbukti. Saya sendiri juga begitu. Saya sangat pendiam di keluarga besar saya. Jika ada pertemuan keluarga besar, baik dari pihak ayah maupun ibu, saya selalu memilih diam dan menarik diri. Tapi saya sangat berbeda dengan keluarga kandung ibu. Karena di keluarga kandung ibu, kami sering rekreasi bersama. Saya bisa dominan di situ. Teriak-teriak pun gak masalah. Berbeda dengan jika berkumpul dalam keluarga besar, apalagi dengan keluarga dari pihak ayah, yang selalu lebih formal. Harus sopan lah. Mesti salaman lah. Mesti ini, mesti itu…fuh..gak nyaman rasanya.

Di suatu perkumpulan, saya juga sangat dominan, karena kami sering berekreasi bersama. Bahkan kami sering bermain outbound bersama. Seorang anggota baru, pernah ditanya begini, bagaimana pendapat mu tentang perkumpulan ini, bagaimana kesan pertamamu..terus dia bilang kira-kira seperti ini..”di sini sepertinya saya orang asing (tentu saja, karena dia masih baru). kalau bisa untuk anggota baru ada pendekatan dari anggota-anggota lama,sehingga saya tidak merasa asing lagi.” Itu pendapatnya dia waktu itu, tapi…beberapa saat kemudian kami melakukan aktivitas outbound, akhirnya dia jadi cair, dan lama-lama dia gak ngerasa asing lagi. Bahkan di foto dia nampak ‘gokil’ ! Ha ha ha..

Jadi, jika kalian menemukan orang-orang sejenis saya..TOLONG ingat ini.. bukan kami sombong, kami sering menarik diri, sering menghindar dari bertemu dengan orang-orang, karena ada perasaan yang tidak nyaman yang tidak bisa kami jelaskan..saya sering merasa tak nyaman untuk bersama dengan orang-orang, terutama dengan orang-orang baru, terutama dengan orang-orang yang ‘kaku’ (walaupun saya sendiri orangnya cenderung terlihat kaku..hi hi hi..). Kami bukanlah orang yang merasa nyaman di tengah keramaian. Kalau disuruh memilih, kami lebih suka sendirian daripada berkumpul dengan orang-orang. Tapi sesungguhnya kami juga membutuhkan teman. Jadi tidak benar seratus persen bahwa kami adalah orang yang lebih suka sendiri. Karena saya SANGAT suka berkumpul dengan teman-teman di satu perkumpulan (yang sering outbound dan rekreasi tadi). Bahkan bisa dibilang saya sangat ‘setia’ loh dengan perkumpulan itu. TOLONG..mohon jangan jauhi kami. Karena bagaimanapun kami makhluk sosial yang membutuhkan teman. Tapi juga jangan paksa kami untuk mendekat. Karena kalau dipaksa jadi makin tak nyaman bagi kami. Jangan pula cepat ‘menghakimi’ kami dengan mengatakan kami orangnya pendiam, dan sebagainya.Seandainya anda melihat kami memang pendiam, jangan dikatakan. Simpan saja dalam hati. Tetaplah tersenyum dan cairkan kebekuan kami dengan canda, ketidakformalan, dengan bermain, dan lain-lain. Ada dari kami yang sangat sulit ‘cair’, ada yang lebih mudah.

Hm..rasanya memang tidak adil kalau saya menuntut orang lain untuk memperlakukan orang-orang sejenis saya. Sedangkan kita kan harus pro-aktif. Tidak menunggu orang lain. Dengan demikian, kalau saya pribadi, dengan saya memahami hal ini, maka saya pun juga akan berusaha untuk tidak menghindar lagi. (Walaupun waktu lebaran barusan saya udah menghindar lagi bertemu dengan keluarga besar, dengan berpura-pura sakit perut. He he he..). Saya juga akan berusaha untuk lebih cepat cair..tapi yah..tolong kasih waktu lah..karena semua kan butuh proses…hm…

 

TAMBAHAN DARI TULISAN “KAMI ORANG PENDIAM”, bisa dilihat di link ini: https://perilakumanusia.wordpress.com/2014/05/30/tambahan-kami-orang-pendiam/

30
Des
10

Teknik Kesepakatan

enam prinsip/teknik dasar untuk memperoleh kesepakatan:
1. Pertemanan/rasa suka (Ingratiation): umumnya, kita lebih bersedia utk memenuhi permintaan dari teman/orang-orang yang kita sukai daripada permintaan dari orang asing atau orang-orang yang tidak kita sukai.
–> teknik ingratiation yang paling efektif:

rayuan(flattery) – memuji orang lain (atau org2 yg dekat dg orang lain itu) dengan cara-cara tertentu.

memperbaiki/memperindah penampilan

mengeluarka banyak tanda-tanda nonverbal yg positif

melakukan kebaikan-kebaikan kecil

2. Komitmen/Konsistensi: artinya orang akan lebih mudah untuk di ajak bersepakat tentang suatu yang berhubungan secara konsisten dengan komitmen yg ia miliki itu.

–> teknik foot-in-the door: membuat orang menyetujui terhadap permintaan kecil, lalu setelah orang itu setuju, disodorkan permintaan yg lebih besar (yg diinginkan).

–> teknik low ball: penawaran/persetujuan diubah (menjadi lebih tidak menarik) setelah orang yang menjadi target terlanjur menerimanya. Misal: konsumen ditawari sebuah mobil yg sangat menarik. Ketika sudah diterima oleh konsumen, penawaran itu ditolak oleh manajer, dengan menaikkan harga/membuat suatu perubahan yang tidak menguntungkan konsumen. Konsumen sering kali menerima penawaran tersebut.

3. Kelangkaan: orang akan lebih mudah menerima kesepekatan jika hal itu adalah hal yang langka, dibandingkan dengan yang tidak langka.

–> playing hard to get (jual mahal): memberikan kesan bahwa seseorang atau obejk adalah langka dan sulit diperoleh.

klo ingin jadi karyawan, tunjukkan bahwa kita mungkin akan direkrut oleh perusahaan lain, kita sangat diinginkan.

dengan memberi kesan bahwa sulit untuk mendapatkan kasih sayang, maka individu akan meningkatkan kemungkinan untuk disukai.

–> teknik deadline: orang yang menjadi target diberi tahu bahwa mereka memiliki waktu yang terbatas untuk mengambil keuntungan dari beberapa tawaran atau untuk memperoleh suatu barang.

4. Timbal balik/resiprositas: orang lebih mudah memenuhi permintaan dari orang yang sebelumnya telah memberikan bantuan atau kemudahan bagi kita daripada terhadap orang yang tidak pernah melakukannya. Dengan kata lain kita harus membayar apa yang telah dilakukan oleh orang lain.

–> teknik door-in-the-face: pemohon memulai dengan permintaan yg besar dan kemudian ketika permintaan ini ditolak, mundur ke permintaan yang lebih kecil (yg sebenarnya yang dekat dengan yang diinginkan).

–> teknik that’s-not-all: menawarkan keuntungan tambahan kepada orang-orang yang menjadi target, sebelum mereka memutuskan apakah mereka hendak menuruti atau menolak permintaan spesifik yang diajukan. –efek ini berhasil utk harga-harga yang lebih rendah.

5. validasi sosial: “hal itulah yang dilakukan oleh orang-orang seperti kita”, bila orang itu percaya, biasanya ia akan lebih mudah menerima kesepekatan kita.
Orang lebih mudah memenuhi permintaan untuk melakukan beberapa tindakan, jika tindakan tersebut konsisten dengan apa yang kita percaya/dipikirkan oleh orang yang mirip dengan kita.

6. Kekuasaan: orang lebih bersedia memenuhi permintaan orang yang berkuasa

taktik lain:

1. teknik Pique:
minat orang yang menjadi target distimulasi dengan permintaan yang tidak umum, sehingga mereka tidak menolak permintaan secara otomatis, karena kebiasaan mereka.

2. menempatkan seseorang dalam suasana yang baik dulu (sama dengan ingragatiation).

PS (dari pengarang buku): Betapa menyedihkan bahwa taktik-taktik pengaruh sosial seringkali digunakan untuk hasil yang mementingkan diri sendiri!

dari buku: “Psikologi Sosial” Jilid 2, edisi kesepuluh (hal 70 – 78) Penulis: Robert A. Baron & Donn Byrne

22
Nov
10

Oke Anak-anak..Merenung di Rumah ya..!

Saat membaca buku-buku Psikologi yg dari luar negeri, saya perhatikan kebanyakan isinya tidak langsung menunjukkan maksudnya, tapi muter-muter dulu ke sana kemari sehingga kita dibawa untuk membayangkan, atau mungkin juga merenungkan. Mereka (penulis) mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya. Pertamanya saya selalu merasa malas membacanya karena kelihatan banyak sekali yang harus dibaca. Tapi ketika sudah dibaca, rasanya saya lebih merasa mengerti, terkadang saya pun melamunkan apa yang sudah saya baca itu, atau mungkin lebih tepatnya bisa disebut merenungkan. Apakah kalian juga merasakan hal yang sama?

Saya belum pernah ke luar negeri, apalagi bersekolah ke luar negeri. Pengen sih, tapi blm ada biaya. Tapi saya sering mendengar bahwa bedanya pendidikan di luar negeri dengan di Indonesia adalah…di luar negeri tidak menekankan hapalan. Yang ditekankan adalah bagaimana sesuatu dipahami untuk mengatasi permasalahan. Tolong koreksi kalau saya salah, karena saya belum pernah melihat sendiri pendidikan di sana seperti apa. Tapi dari buku-buku impor, baik yang terjemahan maupun yang masih berbahasa Inggris, saya melihat memang sepertinya kita dibawa untuk merenungkan sesuatu, bukan sekedar diberi tahu. Memang akibatnya kita membutuhkan waktu lebih lama untuk membacanya, tapi kita jadi lebih paham terhadap sesuatu hal bahkan permasalahan yg ada padanya.

Sepertinya inilah yang harus dibudayakan kepada anak-anak sekolah saat ini. Karena sepertinya lebih menarik bila belajar itu adalah merenungkan sesuatu, bukan menghapal. Misalnya saja, jika mengajarkan tentang Perang Diponegoro, kita tidak menyuruh mereka membuat ringkasan dari buku, atau mengerjakan soal-soal yang isinya menanyakan kapan perang dipenogoro terjadi, atau sekedar faktor-faktor apa saja yang membuat ini atau itu..melainkan memberi tugas seandainya kita saat itu menjadi ajudan pangeran diponegoro, apa yang sebaiknya kita lakukan setelah pangeran diponegoro ditangkap? Kita harus merenungkan sesuatu dan harus sesuai konteks saat itu. Sehingga tidak akan ada jawaban akan mengerahkan pasukan khusus dengan persenjataan senapan AK 47, atau membalas perbuatan Belanda dengan mengirimkan surat yang mengandung virus (senjata biologis), karena semua belum ada di jaman itu. Jadi harus sesuai dengan yang berlaku saat itu. Kalau seperti itu, pasti anak-anak akan merenungkan tentang kondisi saat itu, dan juga akan berpikir kritis tentang permasalahan saat itu..

Entahlah, tapi menurutku kalau dulu saat sekolah pertanyaannya seperti itu, kayaknya saya jadi lebih seneng mengerjakan pr. Karena saya bisa berkreasi dan merenungkan sesuatu. Bukan menghapalkan banyak hal, tapi setelah itu gak tau manfaatnya apa setelah itu dihapalkan, kecuali untuk bisa naik kelas…

Jadi, karena kita biasanya diberitahu oleh guru..Belajar di rumah ya..dan mendengar kata belajar kayaknya jadi tambah malas..mungkin bisa aja diganti dengan..ok..renungkan di rumah ya..!

Bagaimana menurut pendapat anda?

31
Des
09

Diproteksi: tugas-tugas ARK

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

31
Des
09

Diproteksi: ARK-RETARDASIMENTAL

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

31
Des
09

Diproteksi: ARK-TUNAGRAHITA

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

31
Des
09

Diproteksi: ARK-NARKOBA

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini: